• BAB I
    PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
    Orang Indonesia pada umumnya gemar memelihara hewan. Khususnya dikalangan laki-laki yang meluangkan waktunya untuk merawat seekor hewan peliharaan, pada umumnya mereka memelihara sekor ayam, yang mana jenis ayam yang digemari tersebut sangat bervariasi dan memiliki alasan tertentu untuk memeliharanya. Di Indonesia sangat banyak jenis atau ras ayam lokal.
    Ayam lokal dapat digolongkan sebagai tipe pedaging (pelung, nagrak, gaok, dan sedayu), petelur (kedu hitam, kedu putih, nusa penida, nunukan, merawang, wareng, dan ayam sumatera), dan dwiguna (ayam sentul, bangkalan, olagan, kampung, ayunai, melayu, dan ayam sieem). Selain itu dikenal pula ayam tipe petarung (ayam banten, ciparage, tolaki, dan Bangkok). Dan ternak kegemaran/hias, seperti ayam pelung, gaok, tukung,burgo, bekisar, dan walik.[1]
    Salah satu jenis ayam yang sangat bergengsi untuk di pelihara adalah ayam Bangkok. Ayam ini punya gerakan cepat, pukulan yang mematikan, dan disaat bertarung otaknya jalan.[2] Ayam Bangkok termasuk dalam kelasipikasi hewan vetebrata (bertulang belakang) bagian aves (burung) dengan ciri yang dimiliki:
    1.      Tubunya ditutupi oleh bulu
    2.      Tubunya terdiri atas kepalah,leher,badan dan ekor
    3.      Berdarah panas
    4.      Anggota tubuhnya dapat dimodipikasisayap,memiliki paru dan tak bergigi
    5.      Berkembangbiak dengan cara bertelur [3]
    Dari keterangan diatas dapat peneliti asumsikan ayam Bangkok mempunyai gerakan cepat, pukulan yang mematikan, dan disaat bertarung otaknya jalan hal ini disebabkan karena perawatan yang baik dalam merawat ayam Bangkok seperti, pola makan yang teratur biasanya masyarakat memberikan pakan berupa; jagung, padi, nasi, pure, dan diikutsertakan dengan obat-obatan baik secara modern ataupun tradisional.
    Makanan sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan maupun stamina ayam Bangkok pemilihan makanan disesuaikan oleh tipe tarung dan fostur tubuhnya, sudah barang tentu makanan yang berbeda akan mempengaruhi bobot pukulan maupun kelincahan, berikut jenis makanan ayam Bangkok yang harus diberikan:
    1.      Beras Merah
    Beras merah diberikan setelah ayam dewasa yaitu setelah pertumbuhan bulunya selesai, beras merah mengandung protein yang tinggi, rendah lemak, mudah dicerna biasanya ayam yang diberi beras merah akan menjadi kekar dan padat hanya bobot ayam menjadi berat namun sesuai dengan ayam yang mempunyai dasar pukulan kuat, cocok diberikan pada ayam tipe jalu yaitu pertumbuhan jalu yang sangat cepat. Ayam jalu yang baik mempunyai tipikal harus cepat menyelesaikan pertarungan.
    2.      Gabah
    Pemberian gabah menjadikan tubuh ringan dan kesat mirip dengan beras merah namun gabah mempunyai vitamin yang lebih kompleks kalsium yang tinggi dan ekonomis, memperkuat bulu juga tidak mudah rontok bulu, gabah sangat cocok untuk tipe jalu yang memerlukan kelincahan terbang untuk menyerang cepat.
    3.      Jagung
    Diberikan pada ayam pukul mempunyai pertumbuhan jalu lambat maupun lepak(tidak tumbuh jalu) mempunyai kandungan karbohidrat diantara beras merah dan gabah, kandungan fosfor dan kalsium berpengaruh baik untuk pertumbuhan tulang, pertulangan ayam menjadi kuat dan besar. Karbohidrat menjadikan ayam mempunyai tenaga yang besar dan pukulan yang keras.[4]
    Tetapi dimasyarakat Kab. Kepahiang tepatnya di Desa Daspetah banyak kalangan masyarakat yang memberikan pakan ayam Bangkok berupa buah pinang. Dengan berbagai alasan tertentu masyarakat menjadikan buah pinang sebagai makanan pokok ayam Bangkok.
    Tanaman pinang adalah tanaman yang banyak dijumpai didaerah dataran tinggi dan dataran renda kerena mengingat tanaman ini dapat hidup di berbagai jenis tanah. Tumbuhan pinang ini juga tanaman yang membutukan sinar mata hari yang cukup dan tidak terdapat banyak genangan air dengan suhu lingkungan yang diperlukan antara 20-30 C dengan cura hujan antara 2.000-3.000 mm per tahun.[5]
    Pinang (Areca catechu L.) merupakan tanaman famili Arecaceae yang dapat mencapai tinggi 15-20 m dengan batang tegak lurus bergaris tengah 15 cm. Buahnya berkecambah setelah 1,5 bulan da 4 bulan kemudian mempunyai jambul daun-daun kecil yang belum terbuka. Pembentukan batang baru terjadi setelah 2 tahun dan berbuah pada umur 5-8 tahun tergantung keadaan tanah.[6]
    Buah pinang atau dalam nama lainya da fu pi (c) atau areca nut ini yang banyak terdapat di sumatera,Maluku,jawa ini termasuk dalam pamili arecaceae yang memiliki kandungan kimia berupa arekolin,alkoloit,tannin dan lain-lain yang banyak digunakan pada biji,kulit daerah buah dan daunnya yang memiliki mampat sebagai obat cacing,disenteri,sakit pinggang dan lain-lain.[7]
    Khususnya didaerah provinsi bengkulu kabupaten kepahiang buah pinag ini banyak ditanam oleh masyarakat di kebun, pekeranggan rumah Dan bahkan buah pinag ini dijadikan sebagai mata pencaharian sehari-hari masyarakat, dan dalam penanaman buah pinang masyarakat biasanya menggunakan yang sudah bertunas dari buah pinang itu sendiri karena menurut masyarakat dapat mempermudah proses tumbuhnya.
    Alkaloid yang terkandung dalam buah pinang berupa minyak basa keras yang disebut arekolin bersifat kolienergik yang berfungsi memberi efek penenang.  Senyawa inilah yang berguna dalam pengobatan penyakit askariasis pada ternak, Didalam buah pinang seperti Arecoline yang merupakan sebuah ester metil-tetrahidrometil-nikotinat yang berwujud minyak basa keras. Dulu, zat tersebut digunakan dalam bentuk arecolinum  hydrobromicum yang berfungsi untuk membasmi cacing pita pada hewan seperti unggas, kucing, dan anjing, sebelum ditemukannya obat cacing sintetik, seperti piperazine, tetramisole, dan pyrantel pamoate[8]
    Biji dari buah pinang sangat bermanfaat. Biji berguna untuk bahan makanan, bahan baku industri seperti perwarna kain, dan obat. Seperti juga pelepah pinang, biji pun perlu pengolahan untuk mendapatkan produk-produk tersebut. Biji pinang sebagai penyusun ramuan obat sudah masuk kedalam daftar prioritas WHO (Word Health Organization) yang bernaung dibawah PBB. Biji pinang ini dimanfaatkan sebagai obat sejak ribuan tahun sebelum masehi, terutama di Mesir. Hingga kini, ada sekitar 23 negara yang menggunakan biji pinang sebagai obat cacing, eksim, sakit gigi, flu,luka, kudis, difteri, nyeri haid, mimisan, sariawan, mencret, koreng, borok.[9]
    Zat-zat yang terdapat pada buah pinang banyak sekali sehingga memberikan dampak terhadap yang mengkonsumsinya baik ia dampak positif maupun dampak negatif. Masyarakat Despeta Kabupaten Kepahiang, sangat suka memelihara ayam bangkok dikarenakan hobbi dan harganya yang cukup bervariasi sehingga dari hobbi mereka mencajadi perekonomian, dan banyak yang menggunakan buah pinang sebagai makanan pokok ayam bangkok.
    Dari penjelasan diatas berbagai macam zat yang terkandung dalam buah pinang maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang "Manfaat Buah Pinang Terhadap Pertumbuhan Ayam Bangkok di Desa Daspetah Kabupaten Kepahiang Propinsi Bengkulu".







    B.     Rumusan Masalah
    1. Apakah manfaat buah piang terhadap pertumbuhan ayam bangkok di desa Despeta Kabupaten Kepahiang Propinsi Bengkulu?
    2. Bagaimanakah manfaat buah pinang terhadap pertumbuhan ayam Bangkok di desa Despeta Kabupaten Kepahiang Propinsi Bengkulu?
    C.    Tujuan Penelitian
    1. Untuk menjelaskan manfaat buah pinang terhadap pertumbuhan ayam Bangkok di desa despeta Kabupaten Kepahiang Propinsi Bengkulu.
    2. Untuk mengetahui manfaat buah pinang terhadap pertumbuhan ayam Bangkok di desa despeta Kabupaten Kepahiang Propinsi Bengkulu.
    D.    Manfaat Penelitian
    Manfaat buah pinang terhadap pertumbuhan ayam Bangkok di desa Despeta Kabupaten Kepahaiang Propinsi Bengkulu. Adapun manfaat penelitian ini yang diharapkan adalah:
    1.      Bagi penulis, untuk meningkatkan kemampuan dalam meneliti dan memperluas wawasan berkenaan dengan materi ilmu pengetahuan alam umumnya, dan materi Biologi khususnya
    2.      Hasil penelitian ini diharapkan juga dapat menjadi masukan berharga bagi Pengembangan program pemebalajaran ilmu pengetahuan alam pada Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kepahiang khususnya, dan Madrasah Aliyah pada umumnya.
    1. Bagi seluruh guru-guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kepahiang, sebagai bahan masukan dalam mengoptimalkan pembinaan siswa-siswi, khususnya sehubungan dengan keilmuan Biologi.
    2. Bagi peneliti lain dapat menjadi sebagai bahan masukan atau sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.




    BAB II
    KAJIAN PUSTAKA
    A.    Landasan Teoritis
    1.      Pengertian Manfaat
    Pengertian manfaat adalah, sesuatu yang memiliki nilai guna atau faedah. Bahwa dapat dikatakan manfaat yang diperoleh akan menyebabkan perubahan terhadap suatu fungsi tertentu dalam suatu pranata.[10] Jadi manfaat disini merupakan nilai guna atau faedah yang terjadi dari penerapan suatu hewan dalam ketepatan memilih makanan pokok.
    2.      Buah Pinang
    a.       Klasifikasi
    Tanaman pinang diklasifikasikan sebagai berikut: Divisi : spermatophyte Sub divisi : angiospermae Kelas : monocotyledonae Bangsa : arecales Suku : arecaceae/palmae Marga : areca Jenis : Areca catechu L.
    b.      Morfologi
    Pinang (Areca catechu L.) merupakan tanaman famili Arecaceae yang dapat mencapai tinggi 15-20 m dengan batang tegak lurus bergaris tengah 15 cm. Buahnya berkecambah setelah 1,5 bulan da 4 bulan kemudian mempunyai jambul daun-daun kecil yang belum terbuka. Pembentukan batang baru terjadi setelah 2 tahun dan berbuah pada umur 5-8 tahun tergantung keadaan tanah. Bagian-bagian dari tanaman pinang antara lain: (a). Akar: berakar serabut, putih kotor. (b). Batang: tegak lurus dengan tinggi 10-30 meter, bergaris tengah 15 cm, tidak bercabang dengan bekas daun yang lepas. (c). Daun: majemuk menyirip tumbuh berkumpul di ujung batang membentuk roset batang. (d). Bunga: tongkol bunga dengan seludang panjang yang mudah rontok, keluar dari bawah roset daun, panjang sekitar 75 cm, dengan tangkai pendek bercabang rangkap. (f). Biji: biji satu, bentuknya seperti kerucut pendek dengan ujung membulat, pangkal agak datar dengan suatu lekukan dangkal, panjang 15-30 mm, permukaan luar berwarna kecoklatan sampe coklat kemerahan, agak berlekuk-lekuk menyerupai jala dengan warna yang lebih muda. Pada bidang irisan biji tampak perisperm berwarna coklat tua dengan lipatan tidak beraturan. Pinang memiliki nama daerah seperti pineng, pineung (Aceh), pinang (Gayo), batang mayang (Karo), pining (Toba), batang pinang (Minangkabau), dan jambe (Sunda, Jawa).
    Tanaman ini berbunga pada awal dan akhir musim hujan dan memiliki masa hidup 25-30 tahun. Biji buah berwarna kecoklatan sampai coklat kemerahan, agak berlekuk-lekuk dengan warna yang lebih muda. Pada bidang irisan biji tampak perisperm berwarna coklat tua dengan lipatan tidak beraturan menembus endosperm yang berwarna agak keputihan.
    c.       Kandungan Kimia dan Manfaat
    Analisis pinang di Filipina menyatakan bahwa buah pinang mengandung senyawa bioaktif yaitu flavonoid di antaranya tannin, yang dapat menguatkan gigi. Tannin merupakan substansi yang tersebar luas dalam tana- man, seperti daun, buah yang belum matang, batang dan kulit kayu. Pada buah yang belum matang, tannin digunakan sebagai energi dalam proses metabolisme dalam bentuk oksidasi tannin. Sifat kimia tannin antara lain merupakan senyawa kompleks dalam bentuk campuran polifenol yang sukar dipisahkan sehingga sukar mengkristal; tannin dapat diidentifikasikan dengan kromotografi; mengendapkan protein dari larutannya dan bersenyawa dengan protein tersebut sehingga tidak dipengaruhi enzim proteolitik;  serta senyawa fenol dari tannin mempunyai aksi adstrigensia, antiseptik dan pemberi warna. Tannin berguna sebagai pelindung pada tumbuhan pada saat masa pertumbuhan bagian tertentu pada tanaman, sebagai antihama pada tanaman, digunakan dalam proses metabolisme bagian tertentu tanaman, efek terapinya sebagai adstrigensia misalnya pada gastrointestinal dan kulit, serta efek terapi yang lain seperti antiseptik pada jaringan luka dengan mengendapkan protein.
    Biji pinang dapat dimakan bersama sirih dan kapur, yang berkhasiat untuk menguatkan gigi. Air rebusan biji pinang juga digunakan sebagai obat kumur dan penguat gigi. Diduga bahwa tanaman pinang mengandung sejumlah komponen utama senyawa berbasis Selenium (Se) sebagai antibakteri. Hal tersebut dibuktikan dengan peranannya sebagai obat tradisional yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat luas dalam hal Se. Komponen Selenium (Se) ini dapat dihasilkan melalui proses fermen- tasi konsorsium Acetobacter-Saccharomyces.
    Efek biologis dari Se awalnya hanya dipertimbangkan dari segi toksisitasnya saja. Sebagai mikroelemen, Se berperan dalam pertumbuhan, mengontrol metabo- lisme hormon tiroid dan testosteron, sebagai antioksidan Se mereduksi senyawa peroksida, sehingga menurunkan radikal bebas dalam tubuh dan menghambat timbul dan berkembangnya kanker.
    Kebutuhan Se rata-rata orang dewasa 50-200 μg sehari, sementara yang direkomendasikan 55 μg per hari. Menurut penelitian LD50 konsumsi Se adalah 2,3- 13 mg per kg. Asupan bahan mengandung Se berasal dari bahan makanan sehari-hari misalnya makanan yang berasal dari tumbuhan. Kemampuan beberapa jenis tumbuhan untuk mengakumulasi dan mentransformasi Se menjadi senyawa bioaktif sangat penting untuk kesehatan manusia dan lingkungan.[11]
    d.      Cara-Cara Budi Daya
    Budidaya pinang tidak sulit dan tidak memerlukan perlakukan khusus yang penting apabila akan mengusahakan tanaman ini secara komersial harus mempunyai lahan yang cukup luas.
    1)      Persiapan bahan tanaman
    Bahan tanam yang digunakan dalam pengembangan pinang   adalah dengan biji dari buah yang benar – benar sudah tua. Biji yang akan dijadikan benih harus diambil dari pohon induk yang berumur kira – kira 15 tahun atau lebih. Produksi buah dari pohon induk setiap tahunnya menghasilkan sekitar 350 butir per pohon. Cara perbanyakan untuk pinang yaitu :
    a)      Pembibitan pinang dilakukan dalam bedengan khusus dengan ukuran tergantung keperluan.
    b)      Tanah bedengan untuk tempat persemaian terlebih dahulu digemburkan dan dicampur pupuk kandang serta pasir dengan perbandingan 1:1:1.
    c)      Buah pinang yang hendak dibibitkan terlebih dahulu direndam dalam air selama 3 hari.
    d)     Buah pinang tidak perlu dikupas atau dibuang kulitnya sebelum ditanam.
    e)      Setelah perendaman buah calon bibit selesai, kemudian langsung disemaikan dengan cara membenamkan pada bedengan yang sudah disiapkan.
    f)       Jarak tanam di pesemaian 15 x 30 cm.
    g)      Setelah biji ditanam lalu ditutup dengan tanah gembur setebal 10 cm.
    h)      Bedengan diberi naungan dan tiap 3 hari sekali dilakukan penyiraman secukupnya.
    i)        Bedengan diberi naungan dan tiap 3 hari sekali dilakukan penyiraman secukupnya.
    j)        Setelah proses pembibitan dilakukan dengan cara yang benar, maka dalam 1 buah biji akan mulai berkecambah dan pada umur 3 bulan tunasnya akan muncul dipermukan tanah.
    k)      Setelah berumur 6 bulan bibit siap ditanam di lapangan
    2)      Penanaman
    Untuk pinang hendaknya ditanam pada awal musim hujan, jarak tanam di lapangan bervariasi yaitu : 250 x 250 cm atau 250 x 500 cm dengan ukuran lubang tanam  50 x 50 x 50 cm Setelah bibit ditanam kemudian disekelilingnya ditimbun dengan tanah yang sudah dicampur pupuk kandang atau kompos secukupnya dan NPK sebanyak 50 – 75 gram untuk setiap lubang tanam. Lubang tanam dibuat sekitar 4 – 8 minggu sebelum penanam bibit dan dibiarkn terbuka terus menerus untuk menerima sinar matahari penuh sekitar 2 – 4 minggu.
    3)      Pemeliharaan
    Pada tahun I ( pertama ) sebaiknya dilakukan 3 kali penyiangan untuk mencegah tumbuhnya rumput atau gulma lain yang tumbuh disekitar tanaman pinang.
    Jenis dan dosis pemupukan yang digunakan dapat disesuaikan dengan kebutuhan atau tergantung pada tingkat kesuburan tanah. Cara pemberian pupuk baik pupuk kandang maupun pupuk kompos atau buatan dengan membenamkan disekeliling tanaman tepat dibawah tajuk daun.[12]
    3.      Pertumbuhan
    a.       Pengertian Pertumbuhan
    Pertambahan volume tubuh yang di sebabbkan oleh bertambahnya volume dan jumlah sel yang bersifat ireversibel yaitu tidak dapat kembali ke bentuk semula. Pertumbuhan merupakan proses yang dapat diukur dengan menggunakan alat ukur atau bersifat kuantitatif, seperti tinggi dan berat. Dalam pertumbuhan, pada beberapa hewan dan tumbuhan terjadi proses metamorphosis dan metagenesis. Metamorposis adalah proses perubahan bentuk dari satu fase ke fase berikutnya sehingga menjadi organisme dewasa.[13]
    b.      Ciri-Ciri Pertumbuhan
    Adapun ciri-ciri pertumbuhan antara lain adanya penembahan berat badan, volume, panjang atau tinggi, dan luas. Adapaun contohnya pada hewan sebagai berikut:
    1)      Bertambah berat badan
    2)      Bertambah ukuran badan
    3)      Bertambah panjang badan
    4)      Bertambah jumlah bulu atau rambut[14]
    4.      Ayam Bangkok
    a.       Sejarah ayam Bangkok
    Ayam bangkok pertama kali dikenal di Cina pada 1400 SM.Ayam jenis ini selalu dikaitkan dengan kegiatan sabung ayam (adu ayam).Lama-kelamaan kegiatan sabung ayam makin meluas pada pencarian bibit-bibit petarung yang andal.Pada masa itu, bangsa Cina berhasil mengawinsilangkan ayam kampung mereka dengan beragam jenis ayam jago dari India,Vietnam,Myanmar,Thailand dan Laos.Para pencari bibit itu berusaha mendapat ayam yang sanggup meng-KO lawan cuma dengan satu kali tendangan.
    Menurut catatan,sekitar seabad lalu,orang-orang Thailand berhasil menemukan jagoan baru yang disebut king’s chicken. Ayam ini punya gerakan cepat,pukulan yang mematikan dan saat bertarung otaknya jalan.Para penyabung ayam dari Cina menyebut ayam ini:leung hang qhao. Kalau di negeri sendiri, ia dikenal sebagai ayam bangkok. jagoan baru itu sukses menumbangkan hampir semua ayam domestik di Cina.Inilah yang mendorong orang-orang di Cina menjelajahi hutan hanya untuk mencari ayam asli yang akan disilangkan dengan ayam bangkok tadi.Harapannya,ayam silangan ini sanggup menumbangkan keperkasaan jago dari Thailand itu.
    Konon,pada era enam puluhan di Laos nongol sebuah strain baru ayam aduan yang sanggup menyaingi kedigdayaan ayam bangkok.Namun setelah terjadi kawin silang yang terus-menerus maka nyaris tak diketahui lagi perbedaan antara ayam aduan dari Laos dengan ayam bangkok dari Thailand.
    Di Thailand dan Laos,ada beberapa nama penyabung patut dicatat,seperti Vaj Kub,Xiong Cha Is dan kolonel Ly Xab.Pada 1975, ayam bangkok milik Vaj Kub sempat merajai Nampang,arena adu ayam yang cukup bergengsi di negeri PM Thaksin Sinawatra itu.Ayam yang bernama Bay itu merupakan salah satu hasil tangan dingin Vaj Kub dalam melatih dan mencari bibit ayam aduan yang handal.
    Kedigdayaan ayam-ayam hasil ternakan Vaj Kub berhasil disaingi rekan sejawatnya dari kota Socra,Malaysia.Mereka dari negeri jiran itu mampu menelurkan parent stock atau indukan unggul.Hanya saja pada generasi berikutn ya,Mr.Thao Chai dari Thailand berhasil menumbangkan dominasi peternak dari Malaysia.Mr.Thao memberi nama jagoan baru itu,Diamond atau Van Phet.
    Thailand memang tak perlu diragukan lagi sebagai negara penghasil ayam bangkok unggul.Malahan sektor ini sudah diakui sebagai penambah devisa negeri gajah putih tersebut.Dari Thailand bisnis ayam aduan ini tak hanya merambah kawasan Asia Tenggara saja,namun meluas ke Meksiko,Inggris dan Amerika Serikat.
    Ada kebiasaan yang berbeda antara sabung ayam di Thailand dan negara kita.Di Thailand ayam yang bertarung tak diperbolehkan memakai taji atau jalu.Alhasil,ayam yang diadu itu jarang ada yang sampai mati.Kebalikannya di Indonesia,ayam aduan itu justru dibekali taji yang tajam.Taji justru menjadi senjata pembunuh lawan di arena.
    Di Indonesia,hobi mengadu ayam sudah lama dikenal,kira-kira sejak dari zaman Kerajaan Majapahit.Kita juga mengenal beberapa cerita rakyat yang melegenda soal adu ayam ini,seperti cerita Ciung Wanara (di daerah saya ciamis),Kamandaka dan Cindelaras.Cerita rakyat itu berkaitan erat dengan kisah sejarah dan petuah yang disampaikan secara turun-temurun.
    Kota Tuban,Jawa Timur diyakini sebagai kota yang berperan dalam perkembangan ayam aduan.Di sini,ayam bangkok pertama kali diperkenalkan di negara kita.Tak ada keterangan yang bisa menyebutkan perihal siapa yang pertama kali mengintroduksi ayam bangkok dari Thailand.
    Sebetulnya,jenis ayam aduan dari dalam negeri(lokal)tak kalah beragam,seperti ayam wareng(Madura)dan ayam kinantan(Sumatra).Namun ayam-ayam itu belum mampu untuk menyaingi kedigdayaan ayam bangkok.[15]
    b.      Ciri-ciri ayam Bangkok
    Adapun ciri khusus yang pasti dimiliki oleh ayam bangkok istimewa dengan gaya bertarung yang mempesona antara lain memiliki bentuk kepala seperti buah pinang, postur tubuh panjang bulat, sayapnya rapat dan panjang, mempunyai paha yang bulat pipih dan pangkal ekornya besar dan kaku. Ciri-ciri umum adalah ciri yang tidak harus ada pada ayam bangkok istimewa. Artinya, saat ciri khusus sudah ada semua, maka ciri umum boleh diabaikan. Namun, akan lebih baik bila semua ciri ciri, baik khusus maupun umum, keduanya ada pada tubuh ayam tersebut. Adapun ciri umum yang sebaiknya dimiliki memiliki paruh yang panjang dan tebal menyerupai paruh elang, lehernya lurus dan tebal, dada bidang dan bahunya kuncup, bulu ekornya lebat hingga menyentuh tanah, lutut menekuk, kaki kering dengan sisik yang rapih, serta jarinya panjang dan halus[16]
    c.       Jenis-jenis ayam Bangkok
    Berbagai jenis ayam dapat ditemukan di Indonesia yang terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu ayam lokal (bukan ras/buras) dan ayam ras. Ayam lokal dapat berupa ayam asli atau (indigenous) dan ayam lokal yang didatangkan dari negara lain yang telah beradaptasi dan berkembang biak dengan baik di Indonesia .Adaptasi ini meliputi adaptasi terhadap faktor iklim, sistem pemeliharaan ayam, dan jenis pakan yang ada di IndonesiaBerdasarkan karakteristik morfologi, setidaknya ter- dapat 32 ayam lokal Indonesia, yaitu: Ayunai, Balenggek, Banten, Bangkok, Burgo, Bekisar, Cangehgar (Cukir/Alas), Cemani, Ciparage, Gaok, Jepun, Kampung, Kasintu, Kedu (Kedu hitam dan putih), Pelung, Lamba, Maleo, Melayu, Werawang, Nagrak, Nunukan, Nusa Penida, Olagan, Rintit atau Walik, Sedayu, Sentul, Siem, Sumatera, Tolaki, Tukung, dan Wareng yang masing-masing memiliki manfaat tersendiri.[17]
    Berikut ini adalah beberapa jenis ayam bangkok berdasarkan warna bulunya dalam ilmu katuranggan.
    a.       Ayam Wiring
    Ayam wiring adalah jenis ayam bangkok dengan warna bulu hitam dengan rawis kuning kemerahan pada bagian ekor dan lehernya. Ayam wiring dibedakan menjadi 2 jenis yaitu ayam wiring kuning dan ayam wiring galih. Ayam wiring kuning adalah ayam wiring dengan ayam dengan warna dominan rawis kuning keemasan serta mempunyai paruh dan kaki yang juga berwarna kuning. Ayam wiring galih adalah ayam dengan rawis yang warnanya cenderuh merah-merah tuah kecoklatan. Perlu diketahui bahwa ayam wiring merupakan ayam kelas satu dalam katuranggan ayam bangkok. Oleh karena itu, sering kita jumpai ayam dengan bulu wiring akan dijual dengan harga yang sangat tinggi.
    b.      Ayam Hitam atau Taduang
    Setelah ayam wiring, jenis ayam bangkok selanjutnya adalah ayam hitam atau ayam taduang. Ayam ini mempunyai karakteristik bulu dan rawis serta paruh, mata, dan kakinya berwarna hitam. Ayam hitam sering dipercaya mempunyai tuah. Kesaktian dalam bertarung pada ayam hitam bisa muncul tanpa diduga duga. Akan tetapi tidak semua ayam hitam (taduang) memiliki sifat yang demikian. Semuanya tergantung pada pulung si pemiliknya.
    c.       Ayam Bangkeh
    Ayam bangkeh adalah jenis ayam bangkok dengan bulu kuning kemerahan baik pada rawis maupun pada bulu utamanya. Dalam katuranggan, ayam bangkeh dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu ayam bangkeh api dan ayam bangkeh emas. Ayam bangkeh api adalah ayam bangkeh dengan warna bulu kuning gelap kemerahan, sedangkan ayam bangkeh emas adalah ayam bangkeh dengan warna bulu kuning keemasan.
    d.      Ayam Kanso Atau Kelabu
    Selanjutnya adalah ayam Kanso atau ayam kelabu. Jenis ayam bangkok ini memiliki bulu dengan warna dasar abu-abu. Dibedakan menjadi 2 jenis juga, yaitu ayam kanso monyet dan ayam kanso api. Ayam kanso monyet adalah ayam dengan rawis abu-abu kehitaman (gelap), sedangkan ayam kanso api adalah ayam kanso dengan rawis berwarna kuning kemerah-merahan.
    e.       Ayam Kuriak atau Jali
    Ayam kuriak adalah jenis ayam bangkok dengan warna bulu campuran. Artinya bulu ayam ini bisa merupakan perpaduan dari berbagai warna, misalnya hitam, putih, atau warna-warna lainnya. Adapun dalam dunia ayam adu, ayam kuriak sangat jarang ditemui. Oleh karena kelangkaannya, ayam ini juga sering dijual dengan harga mahal.
    f.       Ayam Kinantan Atau Putih Terakhir adalah ayam kinantan.
    Jenis ayam bangkok ini memiliki bulu dengan warna utama putih. Warna tersebut bahkan juga menjadi warna sisik kaki, paruh, hingga matanya. Ayam kinantan dianggap memiliki tuah yang tanpa ampun. Bila sedang hoki, pemiliknya bisa mendapat ayam kinantan yang benar-benar jago di medan tempur. Nah, demikianlah jenis-jenis ayam bangkok berdasarkan warna bulunya dalam ilmu katuranggan. [18]
    d.      Pendapat-pendapat tentang  peternakan ayam
    Usaha ternak ayam tak ubahnya seperti mendirikan bangunan bertingkat, selain pondasi (anak ayam) harus baik, bangunan diatasnya (tata laksana) juga harus baik. Anak ayam yang baik bisa dipilih dari bibit unggul yang dijual tetapi tata laksana yang baik harus dipelajari, baik dari pengalaman maupun dari bacaan.[19]
    Mengembangbiakkan ayam bangkok impor dan menyilangkannya dengan berbagai jenis ayam lokal yang berada di Indonesia, jelas hal ini akan memperkaya keanekaragaman ayam lokal di Indonesia.[20]
















    BAB III
    METODOLOGI PENELITIAN
    A.    Jenis Penelitian
    Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif, penelitian kuantitatif adalah suatu proses menemukan pengetahuan  yang menggunakan data berupa angka sebagai alat menganalisis keterangan mengenai apa yang ingin diketahui.[21]
    Berdasarkan sifat-sifat permasalahannya, penelitian kuantitatif dapat dibedakan menjadi beberapa tipe sebagai berikut:
    1.      Penelitian deskriptif
    2.      Penelitian krelational
    3.      Penelitian kompratif
    4.      Penelitian tindakan
    5.      Penelitian perkembangan
    6.      Penelitian eksperimen[22]
    Maka dari penjelasan diatas peneliti menyimpulkan bahwa penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif.
    B.     Tempat dan Waktu Penelitian
    Tempat dan waktu penelitian dibuat untuk mengetahi dimana penelitian ini dilaksanakan dan kapan terselengaranya. Adapun yang menjadi tempat penelitian dalam penelitian ini adalah, desa Despeta Kabupaten Kepahiang Propinsi Bengkulu yang mana sebagaian besar masyarakatnya memelihara ayam Bangkok. Adapun waktu yang akan dilakukan dalam penelitian ini setelah mendapatkan persetuan atau lolos seleksi.
    C.    Objek Penelitian
    Objek penelitian adalah sasaran penelitian atau apa saja yang akan diteliti oleh peneliti dalam penelitian ini. Yang menjadi objek penelitian dalam penelitian ini adalah, ayam Bangkok di desa Despeta kabupaten kepahiang propinsi bengkulu yang makanan pokoknya adalah buah pinang.
    D.    Populasi dan Sampel
    Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ayam bangkok yang terdapat didesa despeta Kabupaten Kepahiang Propinsi Bengkulu, sedangkan yang menjadi sampelnya adalah hanya ayam Bangkok di Desa despeta Kabupaten Kepahiang Propinsi Bengkulu yang makanan pokonya buah pinang.
    E.     Tehnik Pengumpulan Data
    1.      Observasi
    Observasi merupkan teknik pengumpulan data yang mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain yaitu wawancara dan kuisioner. Karena observasi tidak dengan selalu obyek manusia tetapi juga obyek-obyek alam lain.[23]
    2.      Wawancara
    Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi untuk menemukan masalah yang diteliti dan mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalan dan jumlah respondennya sedikit atau kecil. Wawancara dapat dilakukan secara tersetruktur (peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh) maupun tidak tersetruktur (peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap sebagai pengumpul data) dan dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung.[24]
    Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik wawancara tidak tersetruktur untuk mrendapatkan informasi dan data dari lapangan.
    3.      Tes Leb
    Peneliti menggunakan hasil leb sebagai data penunjang penelitian yang dilakukan peneliti, yang mana buah pinang akan di tes didalam leb untuk mengetahui apa saja yang terkandung dalam buah pinang sehinnga buah pinang bisa dijadikan sebagai makanan pokok ayam bangkok.
    4.      Dokumentasi
    Peneliti menggunakan dokumentasi sebagai data penunjang untuk menunjukkan keabsahan penelitia ayang peneliti lakukan, adapun berbagai dokumentasi yang diambil seperti, foto, audio visul dan dokumen lainnya yang menunjang peneliti.



    F.     Hipotesis Penelitian
    Manfaat buah pinang terhadap pertumbuhan ayam Bangkok di desa Despeta Kabupaten Kepahaiang Propinsi Bengkulu. Adapun hipotesis penelitian ini sebagai berikut:
    Ho adalah, tidak ada manfaat buah pinang terhadap pertumbuhan ayam Bangkok di desa Despeta Kabupaten  Kepahiang Propinsi Bengkulu.
    Hi adalah, terdapat manfaat buah pinang terhadap pertumbuah ayam Bangkok di desa Despeta Kabupaten  Kepahiang Propinsi Bengkulu.
    G.    Tehnik Analisis Data
    Dalam penelitian ini peneliti akan menaganalisa data-data  dari hasil observasi, wawancara, dan hasil leb, untuk dijelaskan sehingga menjadi suatu hasil yang didapat dari penelitian ini.
















    DAFTAR PUSTAKA
    AG Nataamijaya, Pengembangan Potensi Ayam Lokal untuk Menunjang Peningkatan Kesejahteraan Petani, 2010, (Jurnal Litbang Pertanian)
    Agustina Lina, Ilmu pengetahuan Alam Biologi, 2013, (Klaten: viva Pakarindo)
    Ary, Jacobs, dan Razavieh Alih bahasa Arief Furchan, Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, 2000, (surabaya: usaha nasional)
    Bahri Syaiful, Skripsi Tentang Penyebaran Dan Produksi Buah Pinang, 2007, (Medan: USU)
    Chamini Annisa rahma, Inhibisi Ekstrak Biji Pinang ( Areca Catechu l.) Terhadap Pelepasan Ion Fosfor Pada Proses Demineralisasi Gigi Yang Distimulasi Streptococcus Mutans, 2012, (Jember: Tp)
    Enteri, http://penggemar-ayambangkok-ciamis.blogspot.co.id/ (diakses: 17 Februari 2017, 14:49)
    Karim Syaeful, Pertumbuhan Dan Perkembangan Pada Makhluk Hidup IPA Terpadu Kls VII, 2000, (Jakarta: CV Putra Nugraha)
    Kasiram, Metodologi Penelitian Kulitatif Dan Kuantitatif, 2008, (Jakarta: PT Raja Grafindo)
    Mariana, 13 Ciri Ayam Bangkok Istimewa yang Dirahasiakan Botoh Tua ,http://www.ayambangkok.web.id/2016/02/ayam-bangkok-istimewa.html, (diakses: 16 Februari 2017, 13:20)
    Murhawi, Budidaya  Pinang   Dan   Manfaatnya, tt,  ( Surabaya: Balai Perkebunan )
    Nataamijaya Achamat Gozali, Pengembangan Potensi Ayam Lokal Untuk Menunjang Peningkatan Kesejateraan Petani, 2010, (Bogor:Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian)
    Nataliya Berlian, Buah Pinang Sebagai Pembasmi Cacing Pada Ternak, (Kupang: BBPP) dan sihombing,j.2010,pinang dan kasiatnya.
    Rasyaf M., Ayam Lokal, 1991, (Bogor : Kanisius Redaksi Argo Media)
    Rubiyanto, Buku Biologi Kurikulum 2013, 2016, (Jakarta: citra pustaka)
    Sartika Tike, Sofjan Iskandar, Mengenal Plasma Nutfah Ayam Indonesia dan Pemanfaatannya, 2008, (Sukabumi:Kepraks)
    Siregar Abidinsyah, pedoman pengelolahan dan pemampaatan tanaman obat keluarga TOGA, 2011, (kementerian kesehatan RI)
    Sudradjat,  Ayam Bangkok, 1994, ( Jakarta : P.T. Penebar Swadaya)
    Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif R&D Cet. Ke-17, 2012, (Bandung: Alfabeta)
    Sulkani, Kiat Membudidayakan Pinang Sirih, 2013.http://ditjenbun.deptan.go.id (diakses: 14 Februari 2017, 14.15)
    Tama Widiya, Manfaat Sisitem Pengendalian Manajemen, http://repository.widyatama.ac.id (diakses: 20 februari 2017, 17.15)



    [1]Achamat Gozali Nataamijaya, Pengembangan Potensi Ayam Lokal Untuk Menunjang Peningkatan Kesejateraan Petani, 2010, (Bogor:Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian), hal. 132
    [2] Tike Sartika, Sofjan Iskandar, Mengenal Plasma Nutfah Ayam Indonesia dan Pemanfaatannya, 2008, (Sukabumi:Kepraks), hal.  55
    [3] Drs,Rubiyanto, Buku Biologi Kurikulum 2013, 2016, (Jakarta: citra pustaka), hal.  44
    [5] Sulkani, Kiat Membudidayakan Pinang Sirih, 2013.http://ditjenbun.deptan.go.id (diakses: 14 Februari 2017, 14.15)
    [6] Annisa Rahma Chamima, Inhibisi Ekstrak Biji Pinang( Areca catechu L.) Terhadap Pelepasan Ion Fosfor Pada Proses Demineralisasi Gigi Yang Distimulasi Streptococcus mutans, 2012, Hal 4.
    [7] Dr.Abidinsyah siregar, pedoman pengelolahan dan pemampaatan tanaman obat keluarga TOGA, 2011, (kementerian kesehatan RI) hal.
    [8] Dr, Berlian Nataliya, Buah Pinang Sebagai Pembasmi Cacing Pada Ternak, (Kupang: BBPP)
    [9] Syaiful Bahri, Skripsi Tentang Penyebaran Dan Produksi Buah Pinang, 2007, (Medan: USU), th Pdf
    [10] Widiya Tama, Manfaat Sisitem Pengendalian Manajemen, http://repository.widyatama.ac.id (diakses: 20 februari 2017, 17.15)
    [11] Annisa rahma chamini, Inhibisi Ekstrak Biji Pinang ( Areca Catechu l.) Terhadap Pelepasan Ion Fosfor Pada Proses Demineralisasi Gigi Yang Distimulasi Streptococcus Mutans, 2012, (jember), hal 5-7
    [12] Murhawi,Budidaya  Pinang   Dan   Manfaatnya, tt,  ( Surabaya: Balai Perkebunan ), hal.5
    [13] Lina Agustina, Ilmu pengetahuan Alam Biologi, 2013, (Klaten: viva Pakarindo), hal. 22
    [14] Syaeful Karim, Pertumbuhan Dan Perkembangan Pada Makhluk Hidup IPA Terpadu Kls VII, 2000, (Jakarta: CV Putra Nugraha) hal. 2
    [15]Enteri, http://penggemar-ayambangkok-ciamis.blogspot.co.id/ (diakses: 17 Februari 2017, 14:49)
    [16] Mariana, 13 Ciri Ayam Bangkok Istimewa yang Dirahasiakan Botoh Tua ,http://www.ayambangkok.web.id/2016/02/ayam-bangkok-istimewa.html, (diakses: 16 Februari 2017, 13:20)
    [17] Nataamijaya AG. Pengembangan Potensi Ayam Lokal untuk Menunjang Peningkatan Kesejahteraan Petani, 2010, (Jurnal Litbang Pertanian), hal. 131-138

    [19] Sudradjat,  Ayam Bangkok, 1994, ( Jakarta : P.T. Penebar Swadaya), hal. 9
    [20] M. Rasyaf, Ayam Lokal, 1991, (Bogor : Kanisius Redaksi Argo Media), hal. 13
    [21] Kasiram, Metodologi Penelitian Kulitatif Dan Kuantitatif, 2008, (Jakarta: PT Raja Grafindo) hal. 149
    [22] Ary, Jacobs, dan Razavieh Alih bahasa Arief Furchan, Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, 2000, (surabaya: usaha nasional), hal. 15
    [23] Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif R&D Cet. Ke-17, 2012, (Bandung: Alfabeta), hal. 145
    [24] Op Cit, Sugiyono, hal. 137
  • You might also like

    Tidak ada komentar:

Total Tayangan Halaman

Powered By Blogger

Cari Blog Ini