• Makalah Teknologi Pembelajaran


     

    MAKALAH

    Tentang

    TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

    BAB I

    PENDAHULUAN

     

    A.      Latar Belakang Masalah

    Perkembangan dunia pendidikan dan pembelajaran dewasa ini semakin pesat seiring dengan perkembangan budaya manusia dalam menghasilkan cipta, rasa, karsa, rupa dan rekayasa. Hasil dari perkembangan tersebut maka sudah pasti lahirnya model produk-produk terbarukan sebagaimana dalam dunia pendidikan dan pembelajaran yang lebih sering dikenal dengan istilah inovasi pendidikan.[1] Pendidikan merupakan investasi yang paling utama bagi setiap bangsa, apalagi bagi bangsa yang sedang berkembang, yang giat membangun negaranya. Pembangunan hanya dapat dilakukan oleh manusia yang dipersiapkan untuk itu melalui pendidikan.

    Proses perkembangan dunia pendidikan dan pembelajaran pada dasarnya suatu ilmu yang oleh sebagian praktisi dan masyarakat pendidikan tidak disadari dan kurang dipahami kebermaknaannya. Pada era kemajuan seperti sekarang ini para ahli terus berupaya untuk meningkatkan mengajar sebagai suatu ilmu atau science. Karena, hakikatnya pembelajaran adalah usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri siswa.[2]

    Mutu pendidikan banyak dipengaruhi juga pada mutu guru dalam membimbing proses belajar mengajar. Jika melihat pendidikan sejak berabad-abad yang lalu, banyak orang yang berusaha untuk mencari jalan meningkatkan mutu metode mengajar dengan mencari prinsip-prinsip atau asas-asas didaktik. Namun demikian dianggap bahwa mengajar itu masih terlampau banyak merupakan seni yang banyak bergantung kepada bakat dan kepribadian guru. Namun, guru yang hidup pada zaman globalisasi sekarang ini, dituntut untuk bisa menghadapi segala hal khususnya pada bidang informasi dan komunikasi. Di bidang pendidikan, peran guru untuk mendidik siswa menjadi manusia yang selalu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya sangat penting dalam menentukan perjalanan generasi bangsa ini.[3]

    Upaya-upaya yang dilakukan guru dalam memberikan sumbangan inovasi di dalam pendidikan, diharapkan bahwa pada saat mengajar atau mendidik menjadi suatu teknologi yang dapat dikenal dan dikuasai langkah-langkahnya, meskipun cita-cita tersebut belum bisa terwujud secara maksimal. Namun teknologi pendidikan memberi pendekatan yang sistematis dan kritis tentang proses belajar mengajar. Teknologi pendidikan memandangnya sebagai suatu masalah yang harus dihadapi secara rasional dengan menerapkan metode pemecahan masalahnya.[4] Di samping itu perkembangan teknologi pendidikan didukung oleh perkembangan yang pesat dalam media komunikasi seperti radio, TV, video tape, dan lain-lain yang dapat dimanfaatkan bagi tujuan instruksional.

    Bagi guru, mempelajari teknologi pendidikan akan menjadi pegangan yang lebih mantap dan pedoman yang lebih dapat dipercaya untuk memberi pengajaran yang efektif. Sikap ilmiah terhadap proses belajar mengajar akan memberi sikap yang lebih kritis terhadap cara mengajar dan mendorong untuk mencari jalan yang lebih menjamin pada keberhasilan pembelajaran.[5] Maka tujuan utama teknologi pembelajaran adalah untuk memecahkan masalah-masalah belajar atau memfasilitasi kegiatan pembelajaran, sebagai perangkat lunak yang berbentuk cara-cara yang sistematis, canggih, dan mendapat tempat secara luas dalam dunia pendidikan.

    Teknologi pendidikan memudahkan seseorang untuk bisa belajar di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja, dan dengan cara dan sumber belajar apa saja yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Menurut Seels sebagaimana dikutip oleh Bambang Warsita mengatakan bahwa teknologi pembelajaran merupakan gabungan dari media pendidikan, psikologi pembelajaran dan pendekatan sistem untuk pendidikan.[6] Di dalam teknologi pendidikan ada 5 domain dalam memfasilitasi tentang proses dan sumber untuk belajar yaitu desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan dan penilaian. Setiap domain tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, tetapi memiliki hubungan yang sinergis.[7] Namun, di dalam mengupayakan setiap domain dalam pembelajaran tentu saja memiliki kebaikan dan kekurangan masing-masing. Maka dari itu setiap permasalahan yang muncul hendaknya dianalisis atau diberikan penilaian, untuk dapat memberikan keputusan tentang cara-cara yang digunakan dalam proses pembelajaran.

    Pertanyaan yang muncul adalah apakah tujuan yang dirumuskan sudah tercapai, apakah aktivitas yang dilakukan telah berhasil mencapai sasaran atau apakah prosedur kerja yang dilakukan sudah tepat, dan lain sebagainya. Kondisi semacam ini perlu diberikan penilaian guna memberikan tindak lanjut dan keputusan yang diambil terhadap teknologi ataupun rekayasa yang digunakan di dalam proses pembelajaran.

     

    B.       Rumusan Masalah

    1.      Bagaimana Konsep Penilaian Teknologi Pembelajaran PAI?

    2.      Bagaimana Kecenderungan dan Permasalahan Penilaian Teknologi Pembelajaran?

    3.      Bagaimana Aplikasi Penilaian terhadap Pemanfaatan Teknologi Pembelajaran pada Mata PAI?

     

     

     

     

     

    BAB II

    PEMBAHASAN

     

    A.      Konsep Penilaian Teknologi Pembelajaran

    1.      Pengertian Penilaian Teknologi Pembelajaran

    Penilaian ialah suatu proses penentuan memadai tidaknya pembelajaran dan belajar.[8] Menurut Arikunto dan Nurkancana sebagaimana dikutip oleh Dimyati dan Mudjiono menyatakan penilaian sebagai proses perbuatan keputusan terhadap sesuatu ukuran baik-buruk bersifat kualitatif.[9]

    Definisi tentang teknologi pembelajaran dari waktu ke waktu tampaknya mengalami metamorfosa menuju kesempurnaan. Definisi terbaru teknologi pembelajaran adalah studi dan etika praktik dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara menciptakan, menggunakan, memanfaatkan dan mengelola proses dan sumber-sumber teknologi yang tepat. Dengan demikian, tujuannya masih tetap untuk memfasilitasi pembelajaran agar lebih efektif, efisien dan menyenangkan serta meningkatkan kinerja.[10]

    Jika disimpulkan, definisi penilaian teknologi pembelajaran adalah suatu upaya yang dilakukan oleh pihak pengambil kebijakan dalam menentukan, mengukur dan memutuskan tentang kebaikan atau kebermanfaatan suatu program, proyek atau bahan yang digunakan dalam rangka meningkatkan kinerja proses pembelajaran.

     

    2.      Kriteria Penilaian Teknologi Pembelajaran

    Penilaian merupakan bagian integral dari suatu proses pembelajaran. Idealnya, efektivitas pelaksanaan proses pembelajaran diukur dari dua aspek, yaitu: Bukti-bukti empiris mengenai hasil proses belajar siswa yang dihasilkan oleh sistem pembelajaran dan bukti-bukti yang menunjukkan berapa banyak kontribusi (sumbangan) teknologi pembelajaran terhadap keberhasilan dan keefektifan proses pembelajaran tersebut. Walker dan Hess memberikan criteria dalam me-review teknologi pembelajaran berdasarkan pada kualitas:[11]

    a.         Kualitas isi dan tujuan

    1)   Ketepatan

    2)   Kepentingan

    3)   Kelengkapan

    4)   Keseimbangan

    5)   Minat atau perhatian

    6)   Keadilan

    7)   Kesesuaian dengan situasi siswa

    b.        Kualitas pembelajaran

    1)   Memberikan kesempatan belajar

    2)   Memberikan bantuan untuk belajar

    3)   Kualitas memotivasi

    4)   Fleksibilitas pembelajarannya

    5)   Hubungan dengan program pembelajaran lainnya

    6)   Kualitas social interaksi pembelajarannya

    7)   Kualitas tes dan penilaiannya

    8)   Dapat memberi dampak bagi siswa

    9)   Dapat membawa dampak bagi guru dan pembelajarannya

     

    3.      Ruang Lingkup Penilaian Teknologi Pembelajaran

    Langkah awal yang terpenting dalam pengembangan dan penilaian pembelajaran adalah tujuan dan hambatan apa yang harus dijelaskan pada fleksibilitas atau nilai dari suatu program, produk, proyek, proses, tujuan atau kurikulum. Dalam kawasan penilaian dibedakan pengertian antara penilaian program, proyek dan produk.

    Penilaian program merupakan evaluasi yang menaksir kegiatan pendidikan yang memberikan pelayanan secara berkesinambungan dan sering terlibat dalam penyusunan kurikulum. Contohnya, penilaian untuk program membaca dalam suatu wilayah persekolahan, atau program pendidikan berkelanjutan dari suatu universitas.

    Menurut Stufflebeam penilaian program adalah suatu proses menggambarkan, mengumpulkan dan menyajikan informasi deskriptif dan bersifat memutuskan tentang kelayakan dan kebermanfaatan tujuan, rancangan, implementasi, dan dampak suatu program dalam rangka memberi masukan bagi pembuat keputusan, melayani kebutuhan-kebutuhan akuntabilitas dan mempromosikan pemahaman terhadap fenomena yang terlibat.[12]

    Penilaian proyek adalah evaluasi untuk menaksir kegiatan yang dibiayai secara khusus guna melakukan suatu tugas tertentu dalam suatu kurun waktu . contohnya, suatu lokakarya 3 hari mengenai tujuan perilaku. Kunci perbedaan antara program dan proyek yaitu bahwa program diharapkan berlangsung dalam waktu yang tidak terbatas, sedangkan proyek biasanya diharapkan berjangka pendek. Proyek yang dilembagakan dalam kenyataannya menjadi program.[13]

    Penilaian produk merupakan evaluasi yang menaksir kebaikan atau manfaat isi yang menyangkut benda-benda fisik, termasuk buku, pedoman kurikulum, film, televisi, audio/radio dan produk pembelajaran lainnya.[14] Dalam kawasan penilaian terdapat empat sub kawasan yaitu:[15]

    a.    Analisis Masalah

    Analisis masalah mencakup cara penentuan sifat dan parameter masalah dengan menggunakan strategi pengumpulan informasi dan pengambilan keputusan. Kegiatan penilaian meliputi identifikasi kebutuhan, penentuan sejauh mana masalahnya dapat diklasifikasikan sebagai pembelajaran, identifikasi hambatan, sumber dan karakteristik pembelajar, serta penentuan tujuan dan prioritas. Kebutuhan yang dimaksud telah dirumuskan sebagai “jurang antara apa yang ada dan apa yang seharusnya ada dalam pengadaan asil, sedangkan penilaian kebutuhan adalah suatu studi yang sistematis mengenai kebutuhan itu. Analisis kebutuhan diadakan untuk melaksanakan penilaian dan mempertahankan saat proses berjalan untuk perencanaan yang lebih memadai.

    b.    Pengukuran Acuan-Patokan (PAP)

    Pengukuran acuan patokan meliputi teknik-teknik untuk menentukan kemampuan pembelajar menguasai materi yang telah ditentukan sebelumnya. PAP disebut juga acuan isi, acuan tujuan, atau acuan kawasan. Acuan kriteria tentang cukup dan tidaknya hasil belajar ditentukan oleh seberapa jauh pembelajar telah mencapai tujuan. PAP juga memberikan informasi penguasaan seseorang tentang pengetahuan, sikap, atau keterampilan yang berkaitan dengan tujuan.

    Pencapaian kemampuan penguasaan ditentukan oleh skor minimal. Jika mencapai skor tersebut, maka dinyatakan lulus atau tuntas. Pada proses pembelajaran pengukuran acuan patokan diberitahukan kepada peserta didik, sejauh mana mereka dapat mencapai standar yang ditentukan. Pendapat Seels dan Glassgow menyatakan pengukuran acuan patokan dapat dipakai untuk menentukan apakah tujuan utama telah dicapai.

    c.    Penilaian formatif

    Penilaian formatif berkaitan dengan pengumpulan informasi tentang kecukupan dan penggunaan informasi ini sebagai dasar pengembangan selanjutnya. Menurut Michael Scriven, penilaian formatif dilaksanakan pada waktu pengembangan atau perbaikan program atau produk (atau orang dan sebagainya). Penilaian ini dilaksanakan untuk keperluan staf dalam lembaga program dan biasanya tetap bersifat intern, akan tetapi penilaian ini dapat dilaksanakan oleh evaluator dalam atau luar, atau lebih baik lagi kombinasi (gabungan).

    d.   Penilaian sumatif

    Penilaian sumatif berkaitan dengan pengumpulan informasi tentang kecukupan untuk pengambilan keputusan dalam pemanfaatan. Menurut Michael Scriven, penilaian sumatif dilaksanakan setelah selesai dan bagi kepentingan pihak luar atau para pengambil keputusan, sebagai contoh lembaga penyandang dana, atau calon pengguna, walaupun hal tersebut dapat dilaksanakan oleh evaluator dalam atau evaluator gabungan.

    Perbedaan antara formatif dan sumatif telah dirangkm dengan baik dalam sebuah kiasan dari Bob Stake “apabila juru masak mencicipi sup, hal tersebut formatif, apabila para tamu mencicipi sup tersebut, hal tersebut sumatif. Metode yang digunakan dalam penilaian formatif berbeda dengan penilaian sumatif. Penilaian formtif mengandalkan pada kajian teknis dan tutorial, uji coba dalam kelompok kecil atau kelompok besar. Metode pengumpulan data sering bersifat informal, seperti observasi, wawancara, tes ringkas. Sebaliknya, penilaian sumatif memerlukan prosedur dan metode pengumpulan data yang lebih formal. Penilaian sumatif sering menggunakan studi kelompok komparatif dalam desain kuasi eksperimental.[16]

    Proses penilaian bukan sekedar untuk mengukur sejauh mana tujuan tercapai, melainkan digunakan untuk membuat keputusan. Dengan demikian, penilaian merupakan suatu proses yang dilakukan secara sistematis untuk mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasikan informasi guna menentukan sejauh mana tujuan tercapai. Dalam dunia pendidikan, penilaian dilakukan secara terus menerus sehingga di dalam proses kegiatannya dimungkinkan untuk merevisi apabila dirasakan adanya sesuatu kekurangan atau kesalahan.[17]

     

    B.       Kecenderungan dan Permasalahan

    Penilaian kebutuhan dan jenis front-end-analysis semula berorientasi terutama pada perilaku dengan menitik-beratkan pada data kinerja dan penjabaran materi atau isi jadi bagian-bagian yang lebih kecil. Akan tetapi penekanan pada proses konteks belajar yang sekarang memberi orientasi kognitif, kadang-kadang orientasi konstruktivis pada proses penilaian kebutuhan. Perhatian pada konteks jelas terlihat pada gerakan teknologi kinerja, teori belajar situasional, daripada pendekatan yang lebih sistemik terhadap desain.[18]

    Tahap penilaian kebutuhan banyak yang memberikan rekomendasi agar tahap penilaian kebutuhan tugasnya diperluas. Tidak hanya berkonsentrasi pada isi, melainkan ditambah dengan penekanan baru pada analisis pembelajar, lingkungan, dan organisasi. Gerakan perbaikan kualitas juga mempengaruhi kawasan penilaian. Pengendalian kualitas memerlukan penilaian yang berkelanjutan, termasuk perluasan siklus di luar penilaian sumatif. Penilaian konfirmatif merupakan langkah logis berikutnya dalam siklus ini.[19]

    Menurut Helebranndt dan Russell, mengemukakan bahwa penilaian konfirmatif dari bahan belajar dan pembelajar melengkapi siklus pentahapan penilaian untuk menjaga standar kinerja dari suatu sistem pembelajaran. Selang beberapa waktu setelah penilaian formatif dan sumatif, satu team evaluator tidak berpihak atau netral menggunakan alat seperti daftar isian, skala penilaian, dan tes untuk menjawab dua buah pertanyaan fundamental. Pertama, apakah bahan masih memenuhi tujuan semula. Kedua, apakah kemampuan pembelajar masih tetap.[20]

    Peneliti juga meneliti kembali teknik pengukuran acuan patokan. Baker dan O’Neil mempelajari secara mendalam permasalahan penilaian hasil pembelajaran termasuk arah baru untuk pengukuran acuan patokan. Mereka mengajukan model untuk diterapkan pada teknologi baru dengan memperhitungkan tujuan, intervensi, konteks, dasar informasi, dan alur balikan. Pengukuran untuk mengukur tujuan kognitif tingkat tinggi, tujuan afektif, dan tujuan psikomotor dilakukan dengan penelitian pengukuran acuan patokan yang berazaskan komputer. Demikian juga untuk pengukuran kualitatif portofolio, studi kasus, dan presentasi rekaman pita.

    Ilmu pengetahuan kognitif akan tetap mempengaruhi kawasan ini dalam pengertian pendekatan yang lebih baru untuk cara mendiagnosis. Penggunaan teknologi baru menimbulkan masalah baru, menuntut teknik dan metode baru.[21] Sebagai contoh penilaian proyek belajar jarak jauh. Proyek ini cenderung dinilai dangkal. Penting diingat bahwa evaluasi belajar jarak jauh mencakup beberapa aspek, yaitu ketenagaan, fasilitas, peralatan, bahan, dan pemrograman.

     

    C.       Aplikasi penilaian terhadap pemanfaatan teknologi pembelajaran PAI

    Problematika pendidikan di Indonesia merupakan permasalahan di dunia pendidikan yang perlu mendapat tinjauan khusus karena pendidikan berkaitan erat dengan upaya peningkatan mutu. Dalam pelaksanaan pembelajaran PAI tentu saja akan mengalami kendala yang berhubungan dengan kualitas sumber daya manusia dan kurangnya ketersediaan sarana pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem pendidikan yang mampu memberikan manfaat dan mengembangkan teknologi serta dapat memberikan penilaian terhadap kebermanfatan atau keunggulan teknologi pembelajaran.

    Penilaian pendidikan adalah bagian integral dari suatu proses pembelajaran. Sehingga pada saat merancang dan melaksanakan seluruh aktivitas pembelajaran, hal ini sudah termasuk melakukan penilaian terhadap teknologi pendidikan.

    Aktivitas penilaian teknologi merupakan awal dari suatu siklus pembelajaran berikutnya, yang mana teknologi pembelajaran berupaya untuk merancang, mengembangkan dan memanfaatkan aneka sumber belajar sehingga dapat memudahkan atau memfasilitasi seseorang untuk belajar sepanjang hayat, di mana saja, kapan saja dan oleh siapa saja, dengan cara dan sumber belajar apa saja yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.

    Di dalam melaksanakan suatu program pada pembelajaran perlu dinilai terlebih dahulu sebelum dipakai secara luas. Penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah rekayasa atau cara-cara yang dirumuskan tersebut dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini penting untuk diingat dan dilakukan karena banyak orang beranggapan bahwa sekali meraka membuat perencanaaan pembelajaran pasti 100 % sudah baik, padahal anggapan ini belum tentu benar.[22] Perlu dilakukan upaya-upaya dalam menindaklanjuti hal-hal yang kurang memberikan kebermanfaatan dengan memberikan penilaian atau menentukan standar terhadap penilaian suatu program dengan menganalisis masalah-masalah yang muncul. Tujuannya tentu saja adalah untuk memberikan kemudahan dan kesempatan belajar, memenuhi kebutuhan belajar serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam belajar.

    Penilaian diperlukan untuk mengadakan perbaikan. Untuk itu diperlukan keterangan tentang baik buruknya mutu pembelajaran. Tanpa penilaian perbaikan tidak mungkin. Karena itu setiap orang atau lembaga yang merasa bertanggung jawab atas usaha pendidikan wajib mengadakan penilaian, antara lain guru, kepala sekolah, kanwil melalui inspeksi.[23]

    Penilaian memerlukan biaya, waktu, dan tenaga, apalagi jika ruang lingkup yang harus dinilai itu sangat luas seperti efektivitas kurikulum, keserasian model mengajar, keberhasilan suatu pembaruan, mutu pengajaran dalam semua bidang studi, dan lain-lain. Namun, terkadang penilaian kurang mendapat perhatian, kesulitan tentang konsep metodologi interpretasi, pemanfaatan penilaian, biaya dan pelaksanaan menjadi penyebab mengapa penilaian terhadap teknologi pembelajaran sampai sekarang masih menjadi hal yang sulit untuk direalisasikan.[24]

    Penilaian dalam teknologi pembelajaran di kelas diperlukan untuk membuktikan keunggulan suatu metode, media atau ketepatan materi yang diterapkan oleh guru dalam upaya merekayasa pembelajaran agar peserta didik dapat belajar. Berikut adalah contoh jenis penilaian terhadap teknologi pembelajaran PAI.

    1.    Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran PAI di SMP

     

    RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

    (RPP)

     

    Sekolah

    :

    SMP Negeri 1 Sumpiuh

    Mata Pelajaran

    :

    Pendidikan Agama Islam

    Kelas / Semester

    :

    VII / 2

    Standar Kompetensi

    :

    13. Memahami tatacara salat jama’ dan qashar

    Kompetensi Dasar

    :

    13.1. Menjelaskan salat jama’ dan qashar

    Alokasi Waktu          

    :

    2 X  40 menit ( 1 pertemuan)

     

    Tujuan Pembelajaran 

    • Siswa dapat menjelaskan pengertian, sebab-sebab, dan macam-macam salat jama' dan qashar, membaca dan mengartikan dalil naqlinya, menyebutkan salat yang boleh dijamak dan diqashar.

     

     

    Karakter  siswa yang diharapkan :     

    • Dapat dipercaya ( Trustworthines), Rasa hormat dan perhatian ( respect ), Tekun ( diligence ), Tanggung jawab ( responsibility ), Kerjasama, Kecintaan.

     

    Materi Pembelajaran   

    • Pengertian salat jama' dan qashar
    • Dalil naqli tentang hukum salat jama' dan qashar
    • Sebab-sebab salat jama' dan qashar
    • Salat yang boleh dijamak dan diqashar
    • Perbedaan jamak taqdim dan jamak ta'khir

     

    Metode Pembelajaran 

    • Ceramah
    • Tanya jawab
    • CTL
    • Diskusi

    ­­­­­

    Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

    Jenis Kegiatan

    Alokasi Waktu

    Kegiatan Pendahuluan

    • Apersepsi
    • Guru memotivasi siswa mengenai pentingnya salat jamak dan qasar
    • Guru memberikan penjelasan singkat tentang alasan seseorang boleh menjamak qashar

    15 Menit

    Kegiatan Inti

    1). Eksplorasi

    • Guru menjelaskan pengertian , sebab-sebab, dan macam-macam salat jamak

    2).  Elaborasi

    • Siswa menelaah lebih dalam mengenai perbedaan salat jamak taqdim dan jamak ta’khir.
    • Siswa berlatih membaca dalil naqli tentang shala jamak dan qashar.
    • Siswa memberikan contoh salat jamak taqdim dan jamak takhir

    3) Konfirmasi

    • Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa
    • Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

    55 Menit

    Kegiatan Penutup

    ¨      Guru bersama siswa melakukan refleksi mengenai kegiatan belajar dalam KD ini. Bermanfaat atau tidak? Menyenangkan atau tidak?

    10 Menit

    Sumber Belajar           

    ·        Buku Pendidikan Agama Islam, Penerbit Erlangga  dan Yudhistira Kelas VII Semester 2

    ·        Mushaf Al-Qur’an

    ·        Buku Tata Cara Shalat

    ·        Media : Gambar rangkaian perjalanan dan menjamak shalat

     

    Penilaian                     

    Indikator Pencapaian Kompetensi

    Teknik Penilaian

    Bentuk Instrumen

    Instrumen / Soal

    §  Menjelaskan pengertian shalat jama’ dan dasar hukumnya.

    §  Menjelaskan syarat-syarat melaksanakan shalat jama’

    §  Menyebutkan macam-macam shalat yang bisa di jama’

    Tes tertulis

     

    Tes uraian

     

    §  Jelaskan pengertian salat jamak!

    §  Sebutkan syarat-syarat melaksanakan salat jamak!

    §  Sebutkan macam-macam salat jamak!

     

     

     

    Sumpiuh, 8 Februari 2014

    Mengetahui                                                     

    Kepala SMP Negeri 1 Sumpiuh         Guru Pendidikan Agama Islam

     

     

     

    Rudy Kristanto, S.Pd                          A. Nurkholish Anasukha, S.Pd.I

    NIP. 19560202 197803 1 009               NIP. -          

     

     

     

     

     

    2.    Contoh Instrumen Penilaian Formatif Mata Pelajaran PAI

     

    Nama Supervisor   : Rudy Kristanto, S.Pd

    Jabatan                   : Kepala Sekolah

    Lembaga                : SMP N 1 Sumpiuh

    Petunjuk:

    1.      Berilah tanda ceklist ( √ ) pada jawaban yang menurut penilai benar

    2.      Penilaian menggunakan skala nilai 1 – 4: 1- kurang baik 2 – cukup baik 3 – baik dan 4 – sangat baik

    Variabel

    Indikator

    Nilai

    4

    3

    2

    1

    Aspek Isi/Materi

    Kesesuaian materi dengan kegiatan pembelajaran

     

     

     

    Kesesuaian dengan indikator

     

     

     

    Kesesuaian topik dengan materi

     

     

     

    Kesesuaian contoh dengan uraian

     

     

     

    Kejelasan uraian

     

     

     

    Kejelasan contoh

     

     

     

    Aspek Pembelajaran

    Kesesuaian pendekatan

    -       Pemberitahuan tujuan/kompetensi

    -       Apersepsi

     

     

     

    Kesesuaian metode/strategi

     

     

     

    Urutan penyajian

     

     

     

    Efektifitas & efisiensi pencapaian kompetensi

     

     

     

    Motivasi belajar

     

     

     

    Kesesuaian dengan karakteristik siswa

     

     

     

     

    Aspek Media

    Daya Tarik (Opening)

     

     

     

    Alur cerita

     

     

     

    Ketajaman gambar

     

     

     

    Kesesuaian gambar dengan materi

     

     

     

    Keterbacaan, tulisan, ukuran huruf, warna huruf

     

     

     

     

    Komentar dan saran:

    ________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

     

    Interval Penilaian/ PAP :

     0 – 25    : Kurang Baik

    25 – 50   : Cukup

    50 – 75   : Baik

    75 – 100 : Sangat Baik

    Penilaian:                                                 

    =  63 %

    Skor x 100  :     43 x 100   

     Skor Max                        68

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    BAB III

    PENUTUP

     

    A.      Kesimpulan

    Penilaian ialah suatu proses penentuan memadai tidaknya pembelajaran dan belajar. Di dalam pendidikan, penilaian berarti penentuan secara formal mengenai kualitas, efektivitas atau nilai dari suatu program, produk, proyek, proses, tujuan, atau kurikulum.

    Penilaian teknologi pembelajaran adalah suatu upaya yang dilakukan oleh pihak pengambil kebijakan dalam menentukan, mengukur dan memutuskan tentang kebaikan atau kebermanfaatan suatu program, proyek atau bahan yang digunakan pada masa sekarang atau yang akan datang dalam rangka meningkatkan kinerja proses pembelajaran.

    Penilaian bertujuan untuk mengetahui baik buruknya suatu program sehingga pihak pengambil kebijakan dapat mengambil keputusan dan menindak lanjuti program yang telah dirumuskan, baik untuk masa sekarang atau masa yang akan datang.

    Kawasan penilaian dalam teknologi pembelajaran meliputi sub kawasan analisis masalah, pengukuran acuan patokan, penilaian formatif, dan penilaian sumatif. Kecenderungan dan permasalahan penilaian dalam teknologi pembelajaran mengarah kepada penggunaan teknologi baru yang lebih canggih. Meskipun, teknologi baru terkadang menimbulkan permasalahan baru dalam kawasan penilaian. Keadaan ini juga menuntut kebutuhan akan teknik dan metode baru yang sesuai dengan aspek-aspek yang dinilai.

    Penilaian di dalam teknologi pembelajaran PAI bertujuan untuk memberikan pembelajaran yang lebih baik, dengan memperhatikan dan menimbang terhadap kelemahan-kelamahan yang muncul pada saat melakukan rekayasa dalam pembelajaran, baik pada saat persiapan, pelaksanaan ataupun pada saat evaluasi.

    Pada lembaga pendidikan mikro, penilaian menjadi sangat penting untuk mempertahankan kualitas dan kuantitas pembelajaran sebagai sarana mempermudah kegiatan belajar.

     

    DAFTAR PUSTAKA

     

    Abdulhak, Ishak & Deni Darmawan, 2013, Teknologi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

     

    Darmawan, Deni, 2012, Teknologi Pembelajaran, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

     

    Dimyati & Mudjiono. 2009, Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

     

    Kustandi, Cecep & Bambang Sutjipto, 2013, Media Pembelajaran; Manual dan Digital, Cet. 1 Ed. 2, Bogor: Ghalia Indonesia

     

    Nasution, 2005, Teknologi Pendidikan, Jakarta: PT. Bumi Aksara

     

    Mamad, Kawasan Penilaian, “ http://tpmuntirta.blogspot.com/2011/11/kawasan-penilaian.html. Akses  pada tanggal 22 April 2014

     

    Sadiman, Arief S. 1996, Media Pendidikan; pengertian, pengembangan dan pemanfaatannya Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

     

    Warsita, Bambang, 2008, Teknologi Pembelajaran; Landasan dan Aplikasinya, Jakarta: Rineka Cipta

     



                    [1] Ishak Abdulhak & Deni Darmawan, Teknologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. iii

                    [2] Cecep Kustandi & Bambang Sutjipto, Media Pembelajaran; Manual dan Digital, Cet. 1 Ed. 2, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2013), hlm. 5

                    [3] Deni Darmawan, Teknologi Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakrya, 2012), hlm. 8

                    [4] Nasution, Teknologi Pendidikan, Ed. 1 Cet. 3, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005), hlm. vi

                    [5] Ibid, hlm. vi

                    [6] Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran; Landasan dan Aplikasinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm. 10

                    [7] Ibid, hlm. 20

                    [8] Ishak Abdulhak & Deni Darmawan, Teknologi Pendidikan……., hlm. 200

                    [9] Dimyati & Mudjiono. Belajar dan Pembelajaran. (Jakarta: Rineka Cipta. 2009. hlm. 191

                    [10] Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran; Landasan dan Aplikasinya…….., hlm. 17

                    [11] Cecep Kustandi & Bambang Sutjipto, Media pembelajaran Manual dan Digital……., hlm. 143

                    [12] Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran Landasan dan Aplikasinya......., hlm. 53

                    [13] Ibid, hlm. 54

                    [14] Ibid, hlm. 54

                    [15] Ishak Abdulhak & Deni Darmawan, Teknologi Pendidikan……., hlm. 201

                    [16] Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran Landasan dan Aplikasinya......., hlm. 56

                    [17] Ibid, hlm. 57

                    [18] Ishak Abdulhak & Deni Darmawan, Teknologi Pendidikan……., hlm. 203

                    [19] Ibid, hlm. 203

                    [20] Mamad, Kawasan Penilaian, “ http://tpmuntirta.blogspot.com/2011/11/kawasan-penilaian.html. Akses  pada tanggal 22 April 2014

    [21] Ishak Abdulhak & Deni Darmawan, Teknologi Pendidikan……., hlm. 204

                    [22] Arief S. Sadiman, Media Pendidikan; pengertian, pengembangan dan pemanfaatannya (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 182

                    [23] Nasution, Teknologi Pendidikan ( Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hlm. 79.

                    [24] Nasution, Teknologi Pendidikan........., hlm. 80

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

Total Tayangan Halaman

Powered By Blogger

Cari Blog Ini