MAKALAH
Tentang
TEKNOLOGI
PEMBELAJARAN
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Perkembangan dunia pendidikan dan pembelajaran dewasa ini semakin
pesat seiring dengan perkembangan budaya manusia dalam menghasilkan cipta,
rasa, karsa, rupa dan rekayasa. Hasil dari perkembangan tersebut maka sudah
pasti lahirnya model produk-produk terbarukan sebagaimana dalam dunia
pendidikan dan pembelajaran yang lebih sering dikenal dengan istilah inovasi
pendidikan.[1]
Pendidikan merupakan investasi yang paling utama bagi setiap bangsa, apalagi
bagi bangsa yang sedang berkembang, yang giat membangun negaranya. Pembangunan
hanya dapat dilakukan oleh manusia yang dipersiapkan untuk itu melalui
pendidikan.
Proses perkembangan dunia pendidikan dan pembelajaran pada dasarnya
suatu ilmu yang oleh sebagian praktisi dan masyarakat pendidikan tidak disadari
dan kurang dipahami kebermaknaannya. Pada era kemajuan seperti sekarang ini
para ahli terus berupaya untuk meningkatkan mengajar sebagai suatu ilmu atau science.
Karena, hakikatnya pembelajaran adalah usaha-usaha yang terencana dalam
memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri
siswa.[2]
Mutu pendidikan banyak dipengaruhi juga pada mutu guru dalam
membimbing proses belajar mengajar. Jika melihat pendidikan sejak berabad-abad
yang lalu, banyak orang yang berusaha untuk mencari jalan meningkatkan mutu
metode mengajar dengan mencari prinsip-prinsip atau asas-asas didaktik. Namun
demikian dianggap bahwa mengajar itu masih terlampau banyak merupakan seni yang
banyak bergantung kepada bakat dan kepribadian guru. Namun, guru yang hidup
pada zaman globalisasi sekarang ini, dituntut untuk bisa menghadapi segala hal
khususnya pada bidang informasi dan komunikasi. Di bidang pendidikan, peran
guru untuk mendidik siswa menjadi manusia yang selalu mengikuti perkembangan
zaman tanpa meninggalkan akar budaya sangat penting dalam menentukan perjalanan
generasi bangsa ini.[3]
Upaya-upaya yang dilakukan guru dalam memberikan sumbangan inovasi
di dalam pendidikan, diharapkan bahwa pada saat mengajar atau mendidik menjadi
suatu teknologi yang dapat dikenal dan dikuasai langkah-langkahnya, meskipun
cita-cita tersebut belum bisa terwujud secara maksimal. Namun teknologi
pendidikan memberi pendekatan yang sistematis dan kritis tentang proses belajar
mengajar. Teknologi pendidikan memandangnya sebagai suatu masalah yang harus
dihadapi secara rasional dengan menerapkan metode pemecahan masalahnya.[4] Di
samping itu perkembangan teknologi pendidikan didukung oleh perkembangan yang
pesat dalam media komunikasi seperti radio, TV, video tape, dan lain-lain yang
dapat dimanfaatkan bagi tujuan instruksional.
Bagi guru, mempelajari teknologi pendidikan akan menjadi pegangan
yang lebih mantap dan pedoman yang lebih dapat dipercaya untuk memberi
pengajaran yang efektif. Sikap ilmiah terhadap proses belajar mengajar akan
memberi sikap yang lebih kritis terhadap cara mengajar dan mendorong untuk mencari
jalan yang lebih menjamin pada keberhasilan pembelajaran.[5] Maka
tujuan utama teknologi pembelajaran adalah untuk memecahkan masalah-masalah
belajar atau memfasilitasi kegiatan pembelajaran, sebagai perangkat lunak yang
berbentuk cara-cara yang sistematis, canggih, dan mendapat tempat secara luas
dalam dunia pendidikan.
Teknologi pendidikan memudahkan seseorang untuk bisa belajar di
mana saja, kapan saja, oleh siapa saja, dan dengan cara dan sumber belajar apa
saja yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Menurut Seels sebagaimana
dikutip oleh Bambang Warsita mengatakan bahwa teknologi pembelajaran merupakan
gabungan dari media pendidikan, psikologi pembelajaran dan pendekatan sistem
untuk pendidikan.[6]
Di dalam teknologi pendidikan ada 5 domain dalam memfasilitasi tentang proses
dan sumber untuk belajar yaitu desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan
dan penilaian. Setiap domain tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, tetapi
memiliki hubungan yang sinergis.[7]
Namun, di dalam mengupayakan setiap domain dalam pembelajaran tentu saja
memiliki kebaikan dan kekurangan masing-masing. Maka dari itu setiap
permasalahan yang muncul hendaknya dianalisis atau diberikan penilaian, untuk
dapat memberikan keputusan tentang cara-cara yang digunakan dalam proses
pembelajaran.
Pertanyaan yang muncul adalah apakah tujuan yang dirumuskan sudah tercapai,
apakah aktivitas yang dilakukan telah berhasil mencapai sasaran atau apakah
prosedur kerja yang dilakukan sudah tepat, dan lain sebagainya. Kondisi semacam
ini perlu diberikan penilaian guna memberikan tindak lanjut dan keputusan yang
diambil terhadap teknologi ataupun rekayasa yang digunakan di dalam proses
pembelajaran.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana Konsep Penilaian Teknologi Pembelajaran PAI?
2.
Bagaimana Kecenderungan dan Permasalahan Penilaian Teknologi Pembelajaran?
3.
Bagaimana
Aplikasi Penilaian terhadap Pemanfaatan Teknologi Pembelajaran pada Mata PAI?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsep Penilaian Teknologi Pembelajaran
1.
Pengertian Penilaian Teknologi Pembelajaran
Penilaian ialah suatu proses penentuan memadai tidaknya
pembelajaran dan belajar.[8] Menurut Arikunto dan Nurkancana
sebagaimana dikutip oleh Dimyati dan Mudjiono menyatakan penilaian sebagai proses perbuatan
keputusan terhadap sesuatu ukuran baik-buruk bersifat kualitatif.[9]
Definisi tentang teknologi pembelajaran dari waktu ke waktu tampaknya
mengalami metamorfosa menuju kesempurnaan. Definisi terbaru teknologi
pembelajaran adalah studi dan etika praktik dalam upaya memfasilitasi
pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara menciptakan, menggunakan,
memanfaatkan dan mengelola proses dan sumber-sumber teknologi yang tepat.
Dengan demikian, tujuannya masih tetap untuk memfasilitasi pembelajaran agar
lebih efektif, efisien dan menyenangkan serta meningkatkan kinerja.[10]
Jika disimpulkan, definisi penilaian teknologi pembelajaran adalah
suatu upaya yang dilakukan oleh pihak pengambil kebijakan dalam menentukan,
mengukur dan memutuskan tentang kebaikan atau kebermanfaatan suatu program,
proyek atau bahan yang digunakan dalam rangka meningkatkan kinerja proses
pembelajaran.
2.
Kriteria Penilaian Teknologi Pembelajaran
Penilaian merupakan bagian integral dari suatu proses pembelajaran.
Idealnya, efektivitas pelaksanaan proses pembelajaran diukur dari dua aspek,
yaitu: Bukti-bukti empiris mengenai hasil proses belajar siswa yang dihasilkan
oleh sistem pembelajaran dan bukti-bukti yang menunjukkan berapa banyak
kontribusi (sumbangan) teknologi pembelajaran terhadap keberhasilan dan
keefektifan proses pembelajaran tersebut. Walker dan Hess memberikan criteria
dalam me-review teknologi pembelajaran berdasarkan pada kualitas:[11]
a.
Kualitas isi dan tujuan
1)
Ketepatan
2)
Kepentingan
3)
Kelengkapan
4)
Keseimbangan
5)
Minat atau perhatian
6)
Keadilan
7)
Kesesuaian dengan situasi siswa
b.
Kualitas pembelajaran
1)
Memberikan kesempatan belajar
2)
Memberikan bantuan untuk belajar
3)
Kualitas memotivasi
4)
Fleksibilitas pembelajarannya
5)
Hubungan dengan program pembelajaran lainnya
6)
Kualitas social interaksi pembelajarannya
7)
Kualitas tes dan penilaiannya
8)
Dapat memberi dampak bagi siswa
9)
Dapat membawa dampak bagi guru dan pembelajarannya
3.
Ruang Lingkup Penilaian Teknologi Pembelajaran
Langkah awal yang terpenting dalam pengembangan dan penilaian
pembelajaran adalah tujuan dan hambatan apa yang harus dijelaskan pada
fleksibilitas atau nilai dari suatu program, produk, proyek, proses, tujuan
atau kurikulum. Dalam kawasan penilaian dibedakan pengertian antara penilaian
program, proyek dan produk.
Penilaian program merupakan evaluasi yang menaksir kegiatan
pendidikan yang memberikan pelayanan secara berkesinambungan dan sering
terlibat dalam penyusunan kurikulum. Contohnya, penilaian untuk program membaca
dalam suatu wilayah persekolahan, atau program pendidikan berkelanjutan dari
suatu universitas.
Menurut Stufflebeam penilaian program adalah suatu proses
menggambarkan, mengumpulkan dan menyajikan informasi deskriptif dan bersifat
memutuskan tentang kelayakan dan kebermanfaatan tujuan, rancangan,
implementasi, dan dampak suatu program dalam rangka memberi masukan bagi
pembuat keputusan, melayani kebutuhan-kebutuhan akuntabilitas dan mempromosikan
pemahaman terhadap fenomena yang terlibat.[12]
Penilaian proyek adalah evaluasi untuk
menaksir kegiatan yang dibiayai secara khusus guna melakukan suatu tugas
tertentu dalam suatu kurun waktu . contohnya, suatu lokakarya 3 hari mengenai
tujuan perilaku. Kunci perbedaan antara program dan proyek yaitu bahwa program
diharapkan berlangsung dalam waktu yang tidak terbatas, sedangkan proyek
biasanya diharapkan berjangka pendek. Proyek yang dilembagakan dalam
kenyataannya menjadi program.[13]
Penilaian produk merupakan evaluasi yang
menaksir kebaikan atau manfaat isi yang menyangkut benda-benda fisik, termasuk
buku, pedoman kurikulum, film, televisi, audio/radio dan produk pembelajaran
lainnya.[14]
Dalam kawasan penilaian terdapat empat sub kawasan yaitu:[15]
a. Analisis Masalah
Analisis masalah mencakup cara penentuan
sifat dan parameter masalah dengan menggunakan strategi pengumpulan informasi
dan pengambilan keputusan. Kegiatan penilaian meliputi identifikasi kebutuhan,
penentuan sejauh mana masalahnya dapat diklasifikasikan sebagai pembelajaran,
identifikasi hambatan, sumber dan karakteristik pembelajar, serta penentuan
tujuan dan prioritas. Kebutuhan yang dimaksud telah dirumuskan sebagai “jurang
antara apa yang ada dan apa yang seharusnya ada dalam pengadaan asil, sedangkan
penilaian kebutuhan adalah suatu studi yang sistematis mengenai kebutuhan itu. Analisis kebutuhan diadakan untuk
melaksanakan penilaian dan mempertahankan saat proses berjalan untuk
perencanaan yang lebih memadai.
b. Pengukuran Acuan-Patokan (PAP)
Pengukuran acuan patokan meliputi teknik-teknik
untuk menentukan kemampuan pembelajar menguasai materi yang telah ditentukan
sebelumnya. PAP disebut juga acuan isi, acuan tujuan, atau acuan kawasan. Acuan
kriteria tentang cukup dan tidaknya hasil belajar ditentukan oleh seberapa jauh
pembelajar telah mencapai tujuan. PAP juga memberikan informasi penguasaan
seseorang tentang pengetahuan, sikap, atau keterampilan yang berkaitan dengan
tujuan.
Pencapaian
kemampuan penguasaan ditentukan oleh skor minimal. Jika mencapai skor tersebut, maka
dinyatakan lulus atau tuntas. Pada proses pembelajaran pengukuran acuan patokan
diberitahukan kepada peserta didik, sejauh mana mereka dapat mencapai standar
yang ditentukan. Pendapat Seels dan Glassgow menyatakan pengukuran acuan patokan dapat
dipakai untuk menentukan apakah tujuan utama telah dicapai.
c. Penilaian formatif
Penilaian formatif berkaitan dengan pengumpulan
informasi tentang kecukupan dan penggunaan informasi ini sebagai dasar
pengembangan selanjutnya. Menurut Michael Scriven, penilaian formatif dilaksanakan pada
waktu pengembangan atau perbaikan program atau produk (atau orang dan
sebagainya). Penilaian ini dilaksanakan untuk keperluan staf dalam lembaga
program dan biasanya tetap bersifat intern, akan tetapi penilaian ini dapat
dilaksanakan oleh evaluator dalam atau luar, atau lebih baik lagi kombinasi
(gabungan).
d. Penilaian sumatif
Penilaian sumatif berkaitan dengan pengumpulan
informasi tentang kecukupan untuk pengambilan keputusan dalam pemanfaatan. Menurut Michael Scriven, penilaian sumatif dilaksanakan
setelah selesai dan bagi kepentingan pihak luar atau para pengambil keputusan, sebagai
contoh lembaga
penyandang dana, atau calon pengguna, walaupun hal tersebut dapat
dilaksanakan oleh evaluator dalam atau evaluator gabungan.
Perbedaan antara formatif dan sumatif telah dirangkm dengan baik dalam
sebuah kiasan dari Bob Stake “apabila juru masak mencicipi sup, hal tersebut
formatif, apabila para tamu mencicipi sup tersebut, hal tersebut sumatif.
Metode yang digunakan dalam penilaian formatif berbeda dengan penilaian
sumatif. Penilaian formtif mengandalkan pada kajian teknis dan tutorial, uji
coba dalam kelompok kecil atau kelompok besar. Metode pengumpulan data sering
bersifat informal, seperti observasi, wawancara, tes ringkas. Sebaliknya,
penilaian sumatif memerlukan prosedur dan metode pengumpulan data yang lebih
formal. Penilaian sumatif sering menggunakan studi kelompok komparatif dalam
desain kuasi eksperimental.[16]
Proses penilaian bukan sekedar untuk mengukur
sejauh mana tujuan tercapai, melainkan digunakan untuk membuat keputusan.
Dengan demikian, penilaian merupakan suatu proses yang dilakukan secara
sistematis untuk mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasikan informasi
guna menentukan sejauh mana tujuan tercapai. Dalam dunia pendidikan, penilaian
dilakukan secara terus menerus sehingga di dalam proses kegiatannya
dimungkinkan untuk merevisi apabila dirasakan adanya sesuatu kekurangan atau
kesalahan.[17]
B. Kecenderungan dan Permasalahan
Penilaian kebutuhan dan jenis front-end-analysis semula berorientasi
terutama pada perilaku dengan menitik-beratkan pada data kinerja dan penjabaran
materi atau isi jadi bagian-bagian yang lebih kecil. Akan tetapi penekanan pada
proses konteks belajar yang sekarang memberi orientasi kognitif, kadang-kadang
orientasi konstruktivis pada proses penilaian kebutuhan. Perhatian pada konteks
jelas terlihat pada gerakan teknologi kinerja, teori belajar situasional,
daripada pendekatan yang lebih sistemik terhadap desain.[18]
Tahap penilaian kebutuhan banyak
yang memberikan rekomendasi agar tahap penilaian kebutuhan tugasnya diperluas.
Tidak hanya berkonsentrasi pada isi, melainkan ditambah dengan penekanan baru
pada analisis pembelajar, lingkungan, dan organisasi. Gerakan perbaikan
kualitas juga mempengaruhi kawasan penilaian. Pengendalian kualitas memerlukan
penilaian yang berkelanjutan, termasuk perluasan siklus di luar penilaian
sumatif. Penilaian konfirmatif
merupakan langkah logis berikutnya dalam siklus ini.[19]
Menurut Helebranndt dan Russell,
mengemukakan bahwa penilaian konfirmatif dari bahan belajar dan pembelajar
melengkapi siklus pentahapan penilaian untuk menjaga standar kinerja dari suatu
sistem pembelajaran. Selang beberapa waktu setelah penilaian formatif dan
sumatif, satu team evaluator tidak berpihak atau netral menggunakan alat
seperti daftar isian, skala penilaian, dan tes untuk menjawab dua buah
pertanyaan fundamental. Pertama,
apakah bahan masih memenuhi tujuan semula. Kedua,
apakah kemampuan pembelajar masih tetap.[20]
Peneliti juga meneliti kembali teknik
pengukuran acuan patokan. Baker dan O’Neil mempelajari secara mendalam
permasalahan penilaian hasil pembelajaran termasuk arah baru untuk pengukuran
acuan patokan. Mereka mengajukan model untuk diterapkan pada teknologi baru
dengan memperhitungkan tujuan, intervensi, konteks, dasar informasi, dan alur
balikan. Pengukuran untuk mengukur tujuan kognitif tingkat tinggi, tujuan
afektif, dan tujuan psikomotor dilakukan dengan penelitian pengukuran acuan
patokan yang berazaskan komputer. Demikian juga untuk pengukuran kualitatif
portofolio, studi kasus, dan presentasi rekaman pita.
Ilmu pengetahuan kognitif akan tetap
mempengaruhi kawasan ini dalam pengertian pendekatan yang lebih baru untuk cara
mendiagnosis. Penggunaan teknologi baru menimbulkan masalah baru, menuntut
teknik dan metode baru.[21]
Sebagai contoh penilaian proyek belajar jarak jauh. Proyek ini cenderung
dinilai dangkal. Penting diingat bahwa evaluasi belajar jarak jauh mencakup
beberapa aspek, yaitu ketenagaan, fasilitas, peralatan, bahan, dan pemrograman.
C. Aplikasi
penilaian terhadap pemanfaatan teknologi pembelajaran PAI
Problematika pendidikan di
Indonesia merupakan permasalahan di dunia pendidikan yang perlu mendapat
tinjauan khusus karena pendidikan berkaitan erat dengan upaya peningkatan mutu.
Dalam pelaksanaan pembelajaran PAI tentu saja akan mengalami kendala yang
berhubungan dengan kualitas sumber daya manusia dan kurangnya ketersediaan
sarana pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem pendidikan yang
mampu memberikan manfaat dan mengembangkan teknologi serta dapat memberikan
penilaian terhadap kebermanfatan atau keunggulan teknologi pembelajaran.
Penilaian
pendidikan adalah bagian integral dari suatu proses pembelajaran. Sehingga pada
saat merancang dan melaksanakan seluruh aktivitas pembelajaran, hal ini sudah
termasuk melakukan penilaian terhadap teknologi pendidikan.
Aktivitas penilaian teknologi merupakan awal dari suatu
siklus pembelajaran berikutnya, yang mana teknologi pembelajaran berupaya untuk
merancang, mengembangkan dan memanfaatkan aneka sumber belajar sehingga dapat
memudahkan atau memfasilitasi seseorang untuk belajar sepanjang hayat, di mana
saja, kapan saja dan oleh siapa saja, dengan cara dan sumber belajar apa saja
yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.
Di dalam melaksanakan suatu program pada pembelajaran perlu
dinilai terlebih dahulu sebelum dipakai secara luas. Penilaian ini dimaksudkan
untuk mengetahui apakah rekayasa atau cara-cara yang dirumuskan tersebut dapat
mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini penting untuk diingat dan
dilakukan karena banyak orang beranggapan bahwa sekali meraka membuat
perencanaaan pembelajaran pasti 100 % sudah baik, padahal anggapan ini belum tentu
benar.[22]
Perlu dilakukan upaya-upaya dalam menindaklanjuti hal-hal yang kurang
memberikan kebermanfaatan dengan memberikan penilaian atau menentukan standar
terhadap penilaian suatu program dengan menganalisis masalah-masalah yang
muncul. Tujuannya tentu saja adalah untuk memberikan kemudahan dan kesempatan
belajar, memenuhi kebutuhan belajar serta meningkatkan efisiensi dan
efektivitas dalam belajar.
Penilaian diperlukan untuk mengadakan
perbaikan. Untuk itu diperlukan keterangan tentang baik buruknya mutu
pembelajaran. Tanpa penilaian perbaikan tidak mungkin. Karena itu setiap orang
atau lembaga yang merasa bertanggung jawab atas usaha pendidikan wajib
mengadakan penilaian, antara lain guru, kepala sekolah, kanwil melalui
inspeksi.[23]
Penilaian memerlukan biaya, waktu, dan tenaga,
apalagi jika ruang lingkup yang harus dinilai itu sangat luas seperti
efektivitas kurikulum, keserasian model mengajar, keberhasilan suatu pembaruan,
mutu pengajaran dalam semua bidang studi, dan lain-lain. Namun, terkadang penilaian
kurang mendapat perhatian, kesulitan tentang konsep metodologi interpretasi,
pemanfaatan penilaian, biaya dan pelaksanaan menjadi penyebab mengapa penilaian
terhadap teknologi pembelajaran sampai sekarang masih menjadi hal yang sulit untuk
direalisasikan.[24]
Penilaian dalam teknologi pembelajaran di
kelas diperlukan untuk membuktikan keunggulan suatu metode, media atau
ketepatan materi yang diterapkan oleh guru dalam upaya merekayasa pembelajaran
agar peserta didik dapat belajar. Berikut adalah contoh jenis penilaian
terhadap teknologi pembelajaran PAI.
1. Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran PAI di
SMP
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
|
Sekolah |
: |
SMP Negeri 1 Sumpiuh |
|
Mata Pelajaran |
: |
Pendidikan Agama Islam |
|
Kelas / Semester |
: |
VII / 2 |
|
Standar Kompetensi |
: |
13. Memahami tatacara salat jama’ dan qashar |
|
Kompetensi Dasar |
: |
13.1. Menjelaskan salat jama’ dan qashar |
|
Alokasi Waktu |
: |
2 X 40 menit (
1 pertemuan) |
Tujuan
Pembelajaran
- Siswa dapat menjelaskan pengertian,
sebab-sebab, dan macam-macam salat jama' dan qashar, membaca dan mengartikan
dalil naqlinya, menyebutkan salat yang boleh dijamak dan diqashar.
Karakter siswa yang
diharapkan
:
- Dapat dipercaya ( Trustworthines), Rasa hormat dan perhatian ( respect
), Tekun ( diligence ), Tanggung jawab ( responsibility ), Kerjasama, Kecintaan.
Materi
Pembelajaran
- Pengertian salat jama' dan qashar
- Dalil naqli tentang hukum salat jama' dan
qashar
- Sebab-sebab salat jama' dan qashar
- Salat yang boleh dijamak dan diqashar
- Perbedaan jamak taqdim dan jamak ta'khir
Metode
Pembelajaran
- Ceramah
- Tanya jawab
- CTL
- Diskusi
Langkah-langkah
Kegiatan Pembelajaran
|
Jenis Kegiatan |
Alokasi Waktu |
|
Kegiatan Pendahuluan
|
15 Menit |
|
Kegiatan Inti 1).
Eksplorasi
2). Elaborasi
3) Konfirmasi
|
55 Menit |
|
Kegiatan Penutup ¨ Guru bersama siswa melakukan refleksi mengenai kegiatan belajar
dalam KD ini. Bermanfaat atau tidak? Menyenangkan atau tidak? |
10 Menit |
Sumber
Belajar
·
Buku
Pendidikan Agama Islam, Penerbit Erlangga
dan Yudhistira Kelas VII Semester 2
·
Mushaf
Al-Qur’an
·
Buku
Tata Cara Shalat
·
Media : Gambar rangkaian perjalanan dan menjamak shalat
Penilaian
|
Indikator Pencapaian Kompetensi |
Teknik Penilaian |
Bentuk Instrumen |
Instrumen / Soal |
|
§ Menjelaskan pengertian shalat jama’ dan dasar hukumnya. § Menjelaskan syarat-syarat melaksanakan shalat jama’ § Menyebutkan macam-macam shalat yang bisa di jama’ |
Tes tertulis |
Tes uraian |
§ Jelaskan pengertian salat jamak! § Sebutkan syarat-syarat melaksanakan salat jamak! § Sebutkan macam-macam salat jamak! |
Sumpiuh, 8 Februari 2014
Mengetahui
Kepala SMP Negeri 1 Sumpiuh Guru Pendidikan Agama Islam
Rudy Kristanto, S.Pd
A.
Nurkholish Anasukha, S.Pd.I
NIP. 19560202 197803 1 009 NIP. -
2. Contoh Instrumen Penilaian Formatif Mata
Pelajaran PAI
Nama Supervisor : Rudy Kristanto, S.Pd
Jabatan :
Kepala Sekolah
Lembaga :
SMP N 1 Sumpiuh
Petunjuk:
1. Berilah tanda ceklist ( √ ) pada jawaban yang
menurut penilai benar
2. Penilaian menggunakan skala nilai 1 – 4: 1-
kurang baik 2 – cukup baik 3 – baik dan 4 – sangat baik
|
Variabel |
Indikator |
Nilai |
|||
|
4 |
3 |
2 |
1 |
||
|
Aspek Isi/Materi |
Kesesuaian materi dengan kegiatan
pembelajaran |
|
√ |
|
|
|
Kesesuaian dengan indikator |
|
√ |
|
|
|
|
Kesesuaian topik dengan materi |
|
√ |
|
|
|
|
Kesesuaian contoh dengan uraian |
|
|
√ |
|
|
|
Kejelasan uraian |
|
√ |
|
|
|
|
Kejelasan contoh |
|
|
√ |
|
|
|
Aspek Pembelajaran |
Kesesuaian pendekatan -
Pemberitahuan tujuan/kompetensi -
Apersepsi |
|
√ |
|
|
|
Kesesuaian metode/strategi |
|
|
√ |
|
|
|
Urutan penyajian |
|
|
√ |
|
|
|
Efektifitas & efisiensi pencapaian
kompetensi |
|
|
√ |
|
|
|
Motivasi belajar |
|
√ |
|
|
|
|
Kesesuaian dengan karakteristik siswa |
|
|
√ |
|
|
|
Aspek Media |
Daya Tarik (Opening) |
|
√ |
|
|
|
Alur cerita |
|
|
√ |
|
|
|
Ketajaman gambar |
|
|
√ |
|
|
|
Kesesuaian gambar dengan materi |
|
√ |
|
|
|
|
Keterbacaan, tulisan, ukuran huruf, warna
huruf |
|
√ |
|
|
|
Komentar dan saran:
________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Interval Penilaian/ PAP : 0 – 25 : Kurang Baik 25 – 50 : Cukup 50 – 75 : Baik 75 – 100 : Sangat Baik
= 63 %
Skor Max 68
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Penilaian ialah
suatu proses penentuan memadai tidaknya pembelajaran dan belajar. Di dalam
pendidikan, penilaian berarti penentuan secara formal mengenai kualitas,
efektivitas atau nilai dari suatu program, produk, proyek, proses, tujuan, atau
kurikulum.
Penilaian teknologi pembelajaran adalah suatu upaya yang dilakukan oleh
pihak pengambil kebijakan dalam menentukan, mengukur dan memutuskan tentang
kebaikan atau kebermanfaatan suatu program, proyek atau bahan yang digunakan
pada masa sekarang atau yang akan datang dalam rangka meningkatkan kinerja
proses pembelajaran.
Penilaian bertujuan untuk mengetahui baik buruknya suatu program sehingga
pihak pengambil kebijakan dapat mengambil keputusan dan menindak lanjuti
program yang telah dirumuskan, baik untuk masa sekarang atau masa yang akan
datang.
Kawasan
penilaian dalam teknologi pembelajaran meliputi sub kawasan analisis masalah,
pengukuran acuan patokan, penilaian formatif, dan penilaian sumatif. Kecenderungan dan permasalahan penilaian dalam
teknologi pembelajaran mengarah kepada penggunaan teknologi baru yang lebih
canggih. Meskipun, teknologi baru terkadang menimbulkan permasalahan baru dalam
kawasan penilaian. Keadaan ini juga menuntut kebutuhan akan teknik dan metode
baru yang sesuai dengan aspek-aspek yang dinilai.
Penilaian di dalam teknologi pembelajaran PAI bertujuan untuk memberikan
pembelajaran yang lebih baik, dengan memperhatikan dan menimbang terhadap
kelemahan-kelamahan yang muncul pada saat melakukan rekayasa dalam
pembelajaran, baik pada saat persiapan, pelaksanaan ataupun pada saat evaluasi.
Pada lembaga pendidikan mikro, penilaian menjadi sangat penting untuk
mempertahankan kualitas dan kuantitas pembelajaran sebagai sarana mempermudah kegiatan belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulhak, Ishak &
Deni Darmawan, 2013, Teknologi Pendidikan, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Darmawan, Deni, 2012, Teknologi
Pembelajaran, Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Dimyati & Mudjiono. 2009, Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:
Rineka Cipta
Kustandi, Cecep &
Bambang Sutjipto, 2013, Media Pembelajaran; Manual dan Digital, Cet.
1 Ed. 2, Bogor: Ghalia Indonesia
Nasution, 2005, Teknologi Pendidikan, Jakarta:
PT. Bumi Aksara
Mamad, Kawasan Penilaian, “ http://tpmuntirta.blogspot.com/2011/11/kawasan-penilaian.html”. Akses pada tanggal 22 April 2014
Sadiman, Arief S. 1996, Media Pendidikan;
pengertian, pengembangan dan pemanfaatannya Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Warsita, Bambang, 2008, Teknologi Pembelajaran; Landasan dan Aplikasinya, Jakarta: Rineka Cipta
[1] Ishak
Abdulhak & Deni Darmawan, Teknologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2013), hlm. iii
[2] Cecep
Kustandi & Bambang Sutjipto, Media Pembelajaran; Manual dan Digital,
Cet. 1 Ed. 2, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2013), hlm. 5
[6]
Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran; Landasan dan Aplikasinya,
(Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm. 10
[20]
Mamad, Kawasan Penilaian, “ http://tpmuntirta.blogspot.com/2011/11/kawasan-penilaian.html”. Akses pada tanggal 22 April 2014
[21]
Ishak Abdulhak & Deni Darmawan, Teknologi Pendidikan……., hlm. 204

Tidak ada komentar:
Posting Komentar